photo

Book

book cover

The Trouble With Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith. Published in more than 30 countries and languages.

Learn More

Buy the US paperback
Amazon | Barnes & Noble

Audio Book

Audio Book

The Trouble With Islam Today, narrated in English by Irshad Manji, with music by Deeyah and Gary Justice.

Buy Now

Free Translations

For where the book is banned, censored, or difficult to access:

button
button
button_lang button button

Reformist Quran

2.jpeg

A progressive, 21st-century translation -- in English. The U.S. publisher bailed on it after the Prophet Muhammad cartoon riots. But fear didn't stop the translators.

Read and interpret for yourself.

BERIMAN TANPA RASA TAKUT

Ucapan Terima Kasih

BUKU INI membutuhkan waktu panjang dalam proses penulisannya. Adalah mustahil menyebutkan nama semua orang yang patut mendapatkan ungkapan terima kasih dariku. Tetapi beberapa orang wajib disebutkan di sini. Kuucapkan terima kasih yang mendalam kepada Michelle Douglas, Anne Collins, Paul Michaels, dan Margaret Hancock atas segala motivasi dan kepercayaannya kepadaku.

Terima kasih kepada Val Ross, John Pearce, dan Kendall Anderson yang telah membantu memperhalus ide-ideku. Dari sana, sebuah tim riset internasional berkembang—dan orang-orang yang banyak sekali membantu adalah Samra Habib, Caroline Fernandez, dan Mickey Cirak. Rick Matthews dan Samuel Segev sangat membantu dalam pengecekan fakta. Juga yang sangat berarti buat pendidikanku, yaitu kerjaku dengan beberapa media, khususnya TVOntario, tempat ide-ide besar kudapatkan.

Keterlibatan dari Frank Clarke, Amanda Sussman, dan Lynsay Henderson mengantarkanku pada pertemuan-pertemuan penting, sementara diskusi-diskusi yang bersemangat dengan Geraldine Sherman, Robert Fulford, Anna Porter, Anna Morgan, Amatzia Baram, Doug Saunders, Don Habibi, Tarek, dan Nargis Fatah mengantarkanku pada pengetahuan-pengetahuan penting. Sepatutnya kukatakan bahwa kelompok Fatah tidak setuju dengan pikiranku tentang Palestina, sebagaimana dengan seranganku terhadap keterlibatan orang Islam dalam peristiwa Holocaust. Tetapi ketidaksetujuan tidaklah harus mencegah keterlibatan, dan aku menanti suatu hari ketika kita akan bisa bercakap-cakap lagi.

Adalah dorongan dari teman-teman sepanjang momen-momen melelahkan semangat yang harus aku hargai. Dalam hal ini, aku harus menyebut nama Samantha Haywood, Adriana Salvia, Andrew Fedosov, Michel Lamoureux, Michael Savage, dan sebuah kelompok di Boshkung Lake.

Pada akhirnya, aku ingin berterima kasih kepada ibuku yang telah mempersiapkan jiwanya dalam menghadapi kondisi apa pun. Tanpa terpengaruh dengan integritasnya sebagai seorang muslimah yang taat, Ia tak pernah melarangku menulis buku ini. Bagaimanapun, dia telah memperingatkanku agar tidak marah kepada Tuhan. Suatu sore, ketika kami berdua menghadiri upacara pemakaman seorang kerabat, Ibu bilang padaku agar aku menyapa imamnya, yang telah datang untuk memberikan pelayanan. Kuulurkan tanganku kepadanya dan mengucapkan salam. Imam tersebut tidak hanya menolak untuk menyentuh tanganku, namun dia juga menolak memperhatikan tanganku. Ketika aku bertanya kepadanya mengapa, dia segera membaca beberapa “dalil” yang melarang untuk melihat dan menyentuh tubuh perempuan. Aku pikir, menjadi manusiawi jauh lebih utama ketimbang mengikuti dalil-dalil. Ketika melihat hal itu, Ibu mendesah padaku, “Kuharap kau bersikap sopan!” Ibu, baik apakah aku “sopan” atau tidak, di halaman-halaman buku ini—dan hanya Ibu yang bisa memutuskannya—aku meminta dari Ibu satu hal: Jangan menyamakan kegeraman para imam dengan kegeraman Tuhan.