photo

Book

book cover

The Trouble With Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith. Published in more than 30 countries and languages.

Learn More

Buy the US paperback
Amazon | Barnes & Noble

Audio Book

Audio Book

The Trouble With Islam Today, narrated in English by Irshad Manji, with music by Deeyah and Gary Justice.

Buy Now

Free Translations

For where the book is banned, censored, or difficult to access:

button
button
button_lang button button

Reformist Quran

2.jpeg

A progressive, 21st-century translation -- in English. The U.S. publisher bailed on it after the Prophet Muhammad cartoon riots. But fear didn't stop the translators.

Read and interpret for yourself.

BERIMAN TANPA RASA TAKUT

Kata Penutup

KETIKA SELESAI menulis buku ini, aku tidak tahu secara keseluruhan tentang apa yang bisa diharapkan. Aku tahu bahwa banyak kaum muslim akan memperdebatkan klaim-klaimku. Oleh karena itu, aku merujukkan setiap fakta dengan sumber-sumber dan catatan-catatan yang detail di website resmiku (www.irshadmanji.com/sources-and-notes). Setiap dari Anda bisa mengaksesnya.

Namun demikian, begitu banyaknya muslim yang merespons ide-ideku dengan sengit dan marah hanya membuktikan pernyataanku bahwa kita perlu mereformasi diri. Benar, jumlah orang Islam yang terlibat perdebatan substantif dan reflektif denganku terus bertambah. Tetapi, jumlah mereka tidaklah berarti jika dibandingkan dengan orang-orang yang ingin membungkamku. Aku secara rutin menerima ancaman kematian melalui website. Beberapa “calon” pembunuhku menegaskan makna dari kesyahidan. Mereka ingin mengempasku ke dalam “api neraka”, alih-alih 70 perawan. Yang lainnya hanya ingin tahu pesawat apa yang akan kunaiki.

Ada ancaman yang lucu dan aneh. Seperti e-mail dari Basit, yang memulai dengan pertanyaan seperti ini: “Jadi menurutmu karena kau punya pikiran, maka kau menggunakannya?” Well, ketika kau menggunakannya, Basit melanjutkan, “Berhentilah dan minta ampunlah atas kutukan-kutukan yang kau lontarkan, mumpung masih ada waktu. Orang seperti kamu sepatutnya tidak ada saja. Itulah sebabnya neraka ada. Nikmatilah persinggahan sementaramu di muka bumi ini, karena hanya Tuhanlah yang tahu apa yang bakal terjadi pada dirimu, wahai Irshad Manji.”

Di Airport Trudeau, Montreal, seorang lelaki muslim mendekati rekan seperjalananku untuk berkata padanya, “Anda lebih beruntung ketimbang teman Anda.” Ketika rekanku melihatnya dengan heran, lelaki itu membuat sebentuk senapan dengan tangannya dan menarik pelatuk imajinernya. Sebagaimana seorang Kanada yang baik, rekanku bertanya kepadanya untuk meminta penjelasan tentang apa yang dilakukannya. Sembari menuding ke arahku, lelaki itu berkata padaku, “Dia tahu apa yang aku maksudkan.”

Namun begitu, aku tak pernah hidup dalam ketakutan. Tidak sekali pun. Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini teringat lagi saat aku berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini. Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia memberikan semangat kepada seorang muslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa mengundang malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang hidup.” Aku tertawa, berpikir bahwa dia mendapatkan jawaban yang serius dalam waktu sekejap.

“Biar kujelaskan,” kata Rushdie. “Kapan pun seorang penulis mencurahkan sebuah pikiran, maka pikirannya itu bisa saja tidak disetujui, ditentang, bahkan dengan kekerasan. Tetapi pikiran tak bisa ditindas. Pikiran adalah berkah agung dan permanen yang bisa diberikan oleh seorang penulis kepada dunia ini.” Kata-kata menghidupi dirinya sendiri.

Untuk setiap ancaman yang dilancarkan kepadaku, ada kabar yang bagus: dukungan, kepedulian, dan cinta dari teman-teman muslimku lebih besar ketimbang yang bisa kubayangkan. Dua kelompok secara khusus, perempuan muslim dan pemuda muslim, membanjiri website-ku dengan surat-surat penghargaan yang bernada melegakan. “ Katakan seperti apa adanya adalah kalimat pertama yang bisa kukatakan kepadamu untuk mengekspresikan perasaan-perasaanku,” seorang gadis bernama Salimah menulis kepadaku. “Aku telah mengajukan beberapa pertanyaan selama bertahun-tahun tentang kedudukan perempuan dalam Islam dan Al-Quran, tetapi yang kuterima hanyalah sikap ‘Oh-Salimah-suatu-hari-kau-akan-mengerti’. Terima kasih atas kejujuran yang kau ungkapkan, dan atas cintamu kepada kemanusiaan.” Dia mengakhiri suratnya dengan kata “xo”.

Lelaki-lelaki muslim dengan hal-hal positif yang bisa dikatakan, hampir selalu mengidentifikasi diri mereka dalam hubungannya dengan para perempuan di dalam kehidupan mereka. Aku sering kali mendengar ungkapan “sebagai seorang lelaki” atau “sebagai saudara laki-laki….” Sebuah ungkapan yang betul-betul menyentuh hatiku berasal dari seorang lelaki bernama Anwar: “Aku tahu ratusan e-mail yang dikirimkan ke website-mu menyuarakan nada sengit kepadamu…. Tetaplah bersemangat. Kau berada dalam jalur yang benar dan tepat. Kau adalah sosok agung buat tiga anak perempuanku.”

Mungkin surat yang paling menarik berasal dari seorang perempuan muslim di Kansas. Selama bertahun-tahun dia menjadi seorang muslim literalis dalam beragama. Tetapi peristiwa 11 September dan sedikit tragedi pribadi yang dia alami mengejutkan dan menyadarkannya dari kehidupan keberagamannya yang mekanis bagaikan robot. Dia menulis bahwa dia tidak akan lagi “melirihkan lagu di hatinya” atau “menyensor jiwa seninya”.

Namun, komitmennya untuk membebaskan pikirannya telah menyebabkan dirinya mengalami kesepian yang mendalam. Seperti yang dia deskripsikan, “Aku lebih frustrasi dengan hasrat yang tak terpuaskan akan dialog di sebuah dunia di mana dua jenis kelamin dipisahkan, di mana aku tidak mampu merasionalisasi prioritas bahwa kaum laki-laki cenderung mengekspresikan posisi-posisi purba mereka, di mana pilihanku untuk menjadi seorang ibu dan istri dipandang sebagai sebuah harapan dan bukan sebagai pengorbanan yang monumental. Irshad, aku lebih dari sekadar merasa terhina.”

Terlepas dari segala konsekuensinya, dia membuat komitmen yang kedua, “Dan satu hal yang kupikir akan bisa menjadi sebuah mantra baik untuk misi menuju reformasi adalah, aku memutuskan untuk mengikat diriku dengan gagasan-gagasan dan cita-cita, tak peduli apakah gagasan dan cita-cita itu didukung oleh orang-orang bersurban atau berjenggot atau berhijab. Loyalitasku hanya akan kuberikan pada gagasan-gagasan dan cita-cita, tak akan pernah kuberikan pada masyarakat, dogma, ataupun kebudayaan.

“Bukan maksudku untuk mengatakan bahwa kebebasan terbebas dari kejahatan. Namun, masyarakat yang bebas akan membantu perkembangan pikiran dan jiwa yang paling brilian, sementara secara simultan memperbolehkan orang yang paling buruk di antara mereka untuk tetap eksis. Tetapi, menggunakan hal itu sebagai sebuah argumen untuk melawan kehendak-bebas hanya akan mempunyai makna bagi orang-orang awam yang paling rendah moralnya. Keberadaan imoralitas-yang-eksplisit lebih cocok bagi masyarakat yang munafik dan jahat, di mana konsekuensi-konsekuensi buruknya akan terjadi manakala manusia dirampok dari kehendak-bebas yang merupakan anugerah Tuhan.”

Sangat menyentuh hati. Lalu, seperti perempuan itu, kenapa aku tetap belum puas?

Karena kesepian masih menyelimuti jiwa-jiwa yang mengalami kesadaran. Sebagian besar muslim yang menulis kepadaku untuk memberikan dukungan, atau yang membisikkan kata “terima kasih” setelah peristiwa-peristiwa publikku, menceritakan rahasianya bahwa mereka tidak bisa tampil di depan publik. Banyak yang meyakini bahwa saat ini mereka tidak bisa menyuarakan keyakinan mereka karena takut jika dianiaya. Bukan pengasingan. Bukan pengucilan. Tetapi penganiayaan—pembalasan-dendam secara fisik terhadap diri mereka dan keluarga mereka oleh teman-teman sesama muslim.

Aku tidak berani membakar semangat mereka. Aku ingin menunjukkan bahwa Islam yang tereformasi tidak harus menjadi proyek yang lumpuh. Itulah sebabnya aku tidak membawa bodyguard-ku ke mana pun aku pergi. Aku terbiasa seperti itu. Dan professional security telah memberiku peringatan agar saat ini aku menyewa para bodyguard yang akan menjagaku sepanjang waktu karena bukuku telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Urdu (bahasa mayoritas di Pakistan dan India). Kenyataannya adalah, jika aku hendak mempersuasi kaum muslim bahwa kita bisa berhadapan melawan kemapanan dan hidup, maka aku tidak bisa memiliki seorang pengikut yang besar dan tegap yang akan menjagaku sepanjang waktu. Aku harus bisa memberikan contoh.

Sejauh ini semuanya berjalan baik. Keamanan relatif yang kualami pada saat mendebat Islam, dari Inggris hingga Belgia, dari Australia hingga Kanada, dari Belanda hingga Amerika Serikat, telah meyakinkanku bahwa kaum muslim di Barat mempunyai kesempatan luhur untuk menghidupkan ijtihad, tradisi berpikir independen dalam Islam.

Aku tidak menolak bahwa beberapa muslim telah dijadikan target tekanan, intimidasi, penguntitan, dan diskriminasi oleh pemerintah-pemerintah Barat. Aku menghadapi hal yang sama sepanjang Perang Teluk 1991, ketika aku disuruh pergi dari gedung federal tanpa alasan yang jelas. Tetapi, tidak satu pun dari hal ini yang menegasikan fakta mendasar: Bahwa jika kaum muslim di Barat berani untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Kitab Suci, dan jika kita cukup peduli untuk mengadukan kekerasan hak asasi manusia yang dilakukan di bawah panji-panji Kitab Suci, maka kita tak perlu cemas jika dipukul, dicambuk, dilempari batu, dipenjara, atau dieksekusi oleh negara. Seperti yang aku laporkan di bab 6 dari edisi baru ini, lebih banyak dari kita “menyaksikan” pelanggaran-pelanggaran tersebut. Namun, belum cukup banyak yang mengeksposnya ke permukaan.

Tantangannya sekarang adalah, bisakah kita mentransformasikan hasrat kita akan perubahan ke dalam fenomena yang visibel dan terang-terangan. Aku melakukan hal itu dengan para muslim dan non-muslim liberal muda lainnya. Anda bisa tetap mengikuti upaya kami dengan mengunjungi website-ku, www.irshadmanji.com.

Untuk sejenak, aku menikmati kemenangan-kemenangan kecilku. Ada banyak hal seperti berikut ini:

- Para muslim muda yang mempersuasiku untuk menghindar dari penerbit-penerbit buku di Timur Tengah, mendapatkan buku ini yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan mengirimkan terjemahan tersebut ke website-ku. Sehingga, dengan demikian mereka dan teman-teman mereka dapat membacanya tanpa tentangan atau penyensoran.

- Seorang remaja dari Yordania yang, dua hari setelah terjemahan bahasa Arab tersedia, mengirim e-mail untuk berkata bahwa dia memulai sebuah kelompok diskusi untuk “menyebarkan ide-ide ini”.

- Perempuan Arab Amerika di Chicago membelalak malu saat aku berbicara tetapi yang, di pengujung malam, dengan sembunyi-sembunyi mengakui bahwa “kita orang Islam punya banyak hal yang harus dikaji ulang”.

- Satu pasangan muslim di Oxford University, yang tidak pernah bercerita bahwa mereka tak pernah berharap untuk sepakat dengan argumen-argumenku, malah bertanya kepadaku bagaimana mereka bisa membantuku.

- Para mahasiswa Yahudi dan Islam di universitas-universitas Amerika Utara duduk bareng untuk pertama kalinya demi memperbincangkan perbedaan-perbedaan mereka.

- Seorang ateis di Prancis yang kukuh dengan keyakinannya merasa terguncang ketika membaca bukuku (meskipun, dia menambahkan, “Aku tidak bisa mengatakan hal ini pada teman-temanku karena mereka akan melempariku dengan batu!”).

- Seorang lelaki muslim Australia yang bekerja di Canberra Islamic Centre menginformasikan padaku bahwa bukuku akan dijual di sana karena “buku itu membahas periode-berdarah di mana sebuah generasi-baru menyuarakan suara-suara mereka melawan penindas, yang (menindas) atas nama Islam dan tatanan.”

- Seorang gadis muslim dari Saudi Arabia memberi tahu seniornya yang geram pada peristiwa New York bahwa “sekarang waktu yang tepat bagi buku seperti ini”.

- Seorang perempuan berjilbab di Atlanta berkata bahwa dia begitu bingung dan kacau saat membaca tulisanku, dan itu menginspirasi dia untuk “membaca buku-buku dan menulis pikiran-pikirannya sendiri”. Jika dia tengah membaca ini, dia harus tahu bahwa tawaranku untuk memperkenalkannya pada penerbitku masih berlaku.

Meskipun demikian, kisah favoritku adalah tentang perkembangan ibuku. Aku mengaku merasa cemas—sesungguhnya merasa bersalah—tentang betapa keputusanku untuk menulis buku ini akan membawa dampak pada ibuku. Dia cemas akan keselamatanku, tentu saja, tetapi juga cemas akan dampak sosial yang akan kuterima.

Suatu malam, Ibu menelepon untuk memberitahuku bahwa dia pergi ke masjid untuk pertama kalinya sejak bukuku terbit. Dia bersiap-siap untuk menghadapi kritik dari banyak orang—dan memang ia mendapatkan banyak kritik dan kecaman. Imam masjid membandingkan diriku dengan Osama bin Laden dalam hal menebarkan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Ibu, yang terus berkedip untuk menahan air matanya, duduk sepanjang khotbah berlangsung. Setelah itu, sejumlah jamaah secara diam-diam mendekatinya untuk memastikan bahwa “apa yang sedang dikatakan Irshad perlu dikatakan”. Kata-kata mereka menenangkan hatinya, bahwa aku bukanlah seorang muslim yang membenci-diri sendiri atau menyimpan dendam pada Islam.

Dua minggu kemudian, aku mengunjungi ibuku sepanjang tur untuk bukuku. Ke dalam koperku dia menyelipkan sebuah kartu yang kutemukan saat tiba di rumah. Bagian depan kartu tertulis kata “Selamat!” dan di dalamnya dia menulis, di samping banyak hal lainnya, “Teruskan langkahmu, anakku!” Hingga hari ini, aku membawa kartu itu ke mana-mana. Itu bermakna bahwa seorang muslim yang beriman seperti ibuku bisa mendengar pertanyaan-pertanyaanku, bahkan ketika ancaman tak pernah berhenti mengalir.

“Kau membantuku mendapatkan kembali suaraku,” kata Ibu padaku baru-baru ini. Orang-orang lain telah mencurahkan perasaannya padaku tentang hal yang sama. Semoga kita bisa menghimpun suara-suara kita untuk memecah kebisuan mencekam, sekali untuk selamanya.

Irshad Manji,

Toronto/New York, 2008