BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
“Di Amerika Utara, sikap sopan terhadap kaum muslim begitu terasa. Segera setelah terjadi peristiwa 11 September, pendeta Kristen dan Yahudi bergandengan tangan dengan pemimpin-pemimpin muslim. Bersama-sama mereka merancang layanan-layanan lintas iman, konferensi pers, dan penggalangan dana agar kaum muslim mempunyai dana untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan dari pihak yang membenci mereka.”
(Irshad Manji)
JUMAT SIANG di University of Toronto. Para muslim muda menjubali ruang debat di Hart House, pusat kegiatan mahasiswa di kampus yang bergaya Gothik. Mereka tengah melakukan shalat Jumat di area utama, tempat yang biasa digunakan oleh para perdana menteri dan presiden untuk menceramahkan gagasan-gagasannya dan melontarkan lelucon-lelucon. Gambar-gambar yang berpigura dari para tamu terkenal di dunia memperindah dinding-dinding ruangan.
Tetapi, hampir bisa dipastikan Anda tidak akan bisa melihat foto-foto itu pada hari Jumat siang karena foto-foto itu ditutupi dengan bidang-persegi yang terbuat dari kain goni rajutan. Hart House memasang cantolan-cantolan dinding yang kokoh di kedua sisi setiap foto, sehingga kanvas bisa digantungkan di atas wajah—sebuah sikap hormat terhadap orang-orang yang hendak berdoa pada Tuhan, bukan pada makhluk-Nya. Seseorang bertanya-tanya, dalam kondisi apa pun, apakah Taliban akan berpikiran untuk menyelimuti patung-patung Buddha bersejarah, alih-alih memusnahkannya. Seseorang juga bertanya-tanya apakah para mahasiswa muslim tahu betapa nyamannya mereka berada di sini.
Dengan kata “di sini”, aku tidak hanya menunjuk pada kota Toronto yang penuh tekstur. Ambillah contoh kota Halifax. Kalau berkunjung ke sana, aku mungkin hanya akan melihat dua tipe pakaian: tartan (pakaian dari wol) yang dikenalkan oleh staf pria di hotel-hotel turis dan pakaian kerja dari kain khaki yang dikenakan oleh para tentara yang berjaga di sekitar markas mereka. Suatu ketika di Halifax pada sebuah Jumat yang gerimis, aku melihat seorang lelaki yang mengenakan kostum Arab padang pasir: jubah putih, surban, sandal, bahkan sebuah tongkat jalan bengkok. Terlambat shalat Jumat, dia melambaikan tangan pada taksi sembari berbicara menggunakan telepon genggamnya. Aku menginterupsinya untuk bertanya tentang sesuatu. Ibrahim (ya, itu namanya) memberitahuku bahwa dia memakai pakaian Arabnya setiap hari Jumat. Dan ia telah menjalani hal itu selama sepuluh tahun. “Adakah cemooh dari orang sini kepada Anda?” tanyaku, menyelidik. Tidak sekali pun. Di Dalhousie University, tempat Ibrahim menjual hotdog, mereka dengan penuh hormat memanggilnya dengan sebutan The Dawgfather.
Fenomena lainnya, di bandara Halifax, seorang perempuan muslim duduk di seberangku di sebuah lounge. Dia memakai pakaian serbahitam, hingga sarung tangan kulitnya. Tak peduli ramainya lounge tersebut, aktivitas di sana berjalan santai dan terlihat baik-baik saja. Orang-orang bisa menghayati rasa kopi di lidahnya sebelum meneguknya. Akan tetapi, hanya aku yang memperhatikan perempuan tersebut. Orang-orang di sana tidaklah memandangnya dengan sikap curiga yang berlebihan. Tak seorang pun dari mereka merasa terganggu dengan keberadaan dia. Sebelum berjalan menuju gerbang, perempuan muslim tersebut berdiri dan membetulkan pakaian panjangnya. Masih tidak ada pandangan aneh kepadanya. Selagi perempuan itu meninggalkan lounge, aku melihat dua orang tengah memandang kepergiannya, tapi hanya sekilas, dan kemudian mereka kembali ke dalam percakapannya sendiri.
Cerita-cerita semacam ini terasa aneh jika dikaitkan dengan cerita yang menyatakan adanya reaksi yang berlebihan dari non-muslim yang ditujukan kepada kaum muslim. Aku tidak menolak fakta bahwa sejak peristiwa 11 September, kemarahan spontan meledak kepada orang-orang yang “berpenampilan Arab” (di antara mereka juga termasuk Yahudi Israel). Dan orang-orang yang telah terbiasa berceramah pun angkat bicara. Aku telah menghubungi media sepanjang Perang Teluk 1991, ketika sepasukan keamanan menyuruhku keluar dari sebuah gedung pemerintahan tanpa alasan yang jelas. Tetapi, yang jarang diapresiasi dan diberitakan adalah tindakan non-muslim yang berlawanan dengan “Islamofobia”—perilaku sopan terhadap keberadaan kaum muslim.
Di Amerika Utara, sikap sopan terhadap kaum muslim begitu terasa. Segera setelah terjadi peristiwa 11 September, pendeta Kristen dan Yahudi bergandengan tangan dengan pemimpin-pemimpin muslim. Bersama-sama mereka merancang layanan-layanan lintas iman, konferensi pers, dan penggalangan dana agar kaum muslim mempunyai dana untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan dari pihak yang membenci mereka. Pada malam serangan teroris pada gedung WTC, ketika perasaan terkejut membuat hampir semua orang terbungkam dalam kesunyian, aku menerima telepon dari salah satu pendeta yang paling terkenal di Toronto. Dia ingin tahu apakah keadaanku aman. Dia juga bertanya tentang apa yang bisa dilakukannya untuk membantuku jika ada serangan kebencian yang mungkin aku hadapi pasca-11 September.
Tiga hari kemudian, ungkapan kepedulian dan keprihatinan berdatangan dari teman-teman Yahudi, melebihi dari pihak mana pun. Percakapan-percakapan pribadiku dengan para muslim muda mengungkapkan banyak hal yang sama: Para guru, tetangga, rekan pekerja, dan teman-teman di dunia cyber mengungkapkan keprihatinannya dan berkeinginan untuk menetralisasi kebencian yang mungkin saja muncul dari pikiran-pikiran yang sempit dalam memandang Islam.
Aku mencoba melaporkan sikap sopan kaum non-muslim kepada kaum muslim ini kepada polisi, kepada organisasi anti-rasisme, kepada para petugas pencatat statistik, dan kepada seorang penyiar radio nasional. Tiga yang pertama tidak tahu-menahu dengan apa yang harus dilakukan dengan cerita-ceritaku. Laporan-laporan yang kusampaikan sepertinya tidak berhubungan dengan bidang kerja mereka. Bagaimana dengan penyiar radio? Temanku yang ada di sana—seorang lelaki Kaukasus—menjawab bahwa sikap sopan ( decency) bisa dipandang sebagai penolakan berbau rasial yang diderita oleh banyak orang Islam. Dia bertanya, “Apa yang bisa kita katakan dengan hal itu?” Cobalah renungkan hal ini: Jika perbedaan-perbedaan yang lembut ( nuances) dari Islam patut untuk dihargai, maka demikian pula dengan perbedaan yang lembut dari Barat.
Sikap eksklusif muslim dan Barat tidaklah sama. Bahkan Amerika menegaskan kembali pada kita tentang fakta itu. Georgetown, sebuah universitas Jesuit terkemuka di Washington, mempunyai seorang imam atau syekh. Bahkan Angkatan Bersenjata AS mempunyai banyak imam. Pada bulan Oktober 2002, kantor pos AS mengeluarkan sebuah prangko eksklusif untuk merayakan Idul Fitri, hari raya terbesar kaum muslim. “Ini adalah momen membanggakan bagi layanan pos, komunitas muslim, dan bangsa Amerika secara umum,” the Arab News mengutip Azeezaly Jaffer saat berbicara seperti itu. Jaffer adalah wakil presiden untuk urusan-urusan publik dan komunikasi di layanan pos. Prangko Idul Fitri bisa jadi merupakan simbolisme basa-basi. Tetapi, adalah mengherankan jika layanan pos AS memiliki seorang eksekutif muslim di dalamnya. Dan itu bukan basa-basi.
The Islamic Society of North America (ISNA) memiliki banyak bukti adanya mobilitas yang dinikmati oleh kaum muslim di kawasan tersebut. “Muslim Amerika sebagai warga negara mempunyai banyak akses pada kesempatan-kesempatan pendidikan dan pekerjaan,” komentar ISNA. “Kesempatan-kesempatan tersebut bisa berupa posisi-posisi politis di lembaga kepresidenan Amerika Serikat hingga pekerjaan-pekerjaan publik dan jabatan medis dan anggota serikat kerja di Gedung Putih dan Departemen Negara.” Najeeb Halaby, ayah Ratu Noor dari Yordania, mengepalai Federal Aviation Administration di bawah Presiden Kennedy. Dalam memoarnya, Ratu Noor menyatakan bahwa presiden secara pribadi menarik Halaby untuk menempati posisi tersebut. Sungguh berbeda dengan cara Saudi Arabia dalam memperlakukan “orang yang berada di luar” etnisnya.
Bagaimana kisah para pemikir bebas dari negara-negara Arab ketika mereka dibuang dari negeri mereka? Banyak dari mereka mengajar dan menulis dengan bebas di kampus-kampus Amerika. “Sulitkah menjadi muslim Amerika saat ini?” aku bertanya pada bibiku. Dia tinggal di asrama George W. Bush di negara bagian Texas.
“Tidak,” dia mengangkat bahunya. “Tidak jika kau mempunyai kepercayaan diri. Di sini orang tak perlu bersembunyi.” Pada saat terjadi serangan 11 September, dia tengah mengajar di sekolah Islam di Houston. Aku mencoba menyelidiki reaksi dari komunitas sekitar yang dihadapi sekolahnya. Dia berbicara tentang surat-surat yang penuh kasih, telepon-telepon, kartu-kartu, dan bunga yang dikirim oleh warga Texas awam. Ingatan-ingatan dia senada dengan apa yang didengar oleh Los Angeles times dari Islamic Center di South California. “Kami bahagia berada di sini,” kata direktur agamanya. Setelah efek 11 September mereda, seorang teman wartawan berkunjung ke kota-kota pertanian di Amerika dan menemukan simpati serupa terhadap kaum muslim. “Suatu hari,” dia kemudian menulis padaku, “aku berharap seseorang akan mencatat gelombang besar keterbukaan, kebaikan, dan inteligensi yang muncul di Amerika selama sekitar dua bulan pasca-serangan 11 September.” Teman ini punya pandangan agak kekiri-kirian. Namun demikian, dia, seperti juga aku, tidak memahami kenapa di atas bumi Tuhan yang hijau ini, muncul orang-orang rasis yang tidak tahu berterima kasih.
Sesuatu yang paling kuhargai adalah hasrat untuk mengetahui sesuatu. “Aku adalah pribadi yang skeptis,” kata seorang pelobi muslim Sarah Eltantawi pada Los Angeles Times. “Tetapi hatiku menjadi terbuka ketika melihat keinginan dan ketulusan dari orang non-muslim untuk mempelajari Islam.” Pasca-11 September, tiga edisi Al-Quran menjadi bestseller di amazon.com. The University of North Carolina (UNC) mewajibkan mahasiswa barunya membaca sebuah buku tentang Al-Quran. Meskipun pewajiban tersebut diperkarakan secara hukum, dan gagal, sebuah komentar yang sama-sama berpengaruh keluar dari mulut ketua badan eksekutif mahasiswa UNC berusia dua puluh satu tahun, Jennifer Daum. Ia berkata, “Pendapatku adalah, jika Anda tidak siap untuk membaca ide-ide yang tidak Anda sukai dan setujui, Anda tidak akan bisa mendapatkan hikmah yang lebih tinggi.”
Spirit eksplorasi ini menjadi oksigen di Amerika Utara, sehingga aku begitu bahagia bisa hidup di sana. Di banyak negara Islam, jika Anda menjadi pribadi yang melebihi standar perilaku yang sudah ditentukan, Anda akan dianggap aneh. Dalam banyak kasus di Amerika Utara, kaum muslim mempunyai kebebasan untuk menjadi pribadi multidimensional. Semua ras dan etnis bisa mengekspresikan dirinya di sana. Salah satu korban serangan 11 September adalah Mychal Judge, seorang pastur Katolik yang ramah. Para pemadam kebakaran berdukacita atas kepergiannya, sebab selama bertahun-tahun dia melayani mereka. Pluralisme warga, pluralisme ide: Tariklah hubungan dari kedua hal itu. Aku telah melakukannya, dan hubungan itu telah sebegitu jauh menyelamatkan imanku dalam Islam.
Jika aku besar di negeri Islam, mungkin di dalam hati aku akan menjadi seorang ateis. Karena aku hidup di ujung dunia ini—tempat di mana aku bisa berpikir, berdebat, dan menyelidik secara mendalam ke dalam topik apa pun—aku pun mengetahui alasan kenapa aku tidak keluar dari iman Islam.
Setelah banyak bereksplorasi, interpretasi pribadiku terhadap Al-Quran membawaku pada tiga pesan yang baru saja kudapatkan. Pertama, hanya Tuhan yang sepenuhnya tahu kebenaran dari segala hal. Kedua, hanya Tuhan yang bisa menghukum orang yang tak beriman, dan itu berarti bahwa hanya Tuhan yang tahu apa itu keimanan sejati. (Dan, mencermati tingkatan-tingkatan emosi [ range of moods] dari Al-Quran yang luar biasa besar, sungguh hanya Yang Mahakuasa yang mengetahui bagaimana semuanya itu berkaitan.) Manusia harus memberikan peringatan dan melawan praktik-praktik kejahatan dan kekerasan, itulah yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan ketakwaan kita. Ketiga, kesadaran kita membebaskan diri kita untuk merenungkan kehendak Tuhan—tanpa kewajiban apa pun untuk tunduk pada tekanan dari prinsip atau faham tertentu. “Tidak ada paksaan dalam agama,” kata surah Al-Baqarah. “Bagimu agamamu, bagiku agamaku,” kata surah Al-Kafirun. Di antara dua surah tersebut, ada pernyataan seperti ini: Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu…” Begitulah.
Interpretasiku begitu terang tentang kenapa aku, sebagai seorang muslim, tidak dapat tetap diam terhadap para pembela supremasi Islam, baik apakah mereka kelompok ekstrem seperti Osama bin Laden ataupun muslim arus-utama seperti guru madrasahku, Mr. Khaki. Setelah mencapai kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri yaitu “tanpa paksaan”, mereka berbalik arah dan memaksa orang lain. Pada poin itu, kewajiban yang diperintahkan oleh Al-Quran untuk “memberikan peringatan” terhadap praktik-praktik yang menghakimi keyakinan berubah menjadi kebolehan untuk mengintimidasi, yang ditentang oleh Al-Quran. Melalui pembacaanku, tidak seharusnya kita hanya menikmati kebebasan untuk bereksplorasi. Kita juga harus memastikan bahwa kebebasan ini eksis bagi setiap orang. Jika tidak, itu akan memperlemah otoritas Tuhan sebagai hakim dan juri yang tertinggi. Penalaran individual dan independen semacam itu adalah logis, bijak secara potensial, dan sangat sesuai dengan cita-cita yang kupegang teguh sebagai orang Barat.
Aku merujuk pada pluralisme, bukan konsumerisme. Jika Anda berpikir ideal-ideal Barat hanya bisa mengubah kita menjadi konsumen mode-mode mutakhir yang malas, katakan padaku kenapa aku tidak shopping atribut-atribut agama yang membuat orang menderita (kecuali, dalam satu kasus, membeli Al-Quran berbahasa Inggris). Kepuasan instan tidak akan memuaskanku sepanjang momen penampilanku di televisi ketika bosku bertanya padaku bagaimana aku merekonsiliasi iman Islamku dengan hukuman cambuk yang diberikan kepada gadis muda korban perkosaan di Nigeria. Sebagai seseorang yang menghargai kebebasan berpikir, aku menerima haknya untuk bertanya. Tidakkah begitu? Atau, akankah Anda akan menggugatnya karena merasa dia telah mengganggu Anda? Apakah dia meredamku atau menunjukkan sinyal keyakinannya dalam hubungannya dengan kemampuanku memikirkan hal ini? Dalam menanggapi tantangannya, apakah aku seorang imperialis-tersembunyi yang membenci-diri-sendiri ataukah seorang fanatik? Sebagai seorang muslim, bagaimana aku bisa berkembang jika aku bersikukuh untuk tidak mau berefleksi?
Berkaitan dengan sebuah pertanyaan untuk para humanis sekuler di antara Anda, aku menghormati pilihan Anda untuk mengambil langkah ke dalam iman diri Anda sendiri—yang tidak terkait dengan ketuhanan—tetapi apa yang akan kuperoleh jika aku mencampakkan keimananku secara dini? Agama memberiku nilai-nilai (seperti nilai kedisiplinan) yang membuatku mampu mendapatkan pegangan dalam materialisme kehidupan di Amerika Utara. Dalam kompetisi inilah aku menemukan insentif untuk tetap berpikir. Tegangan antara agama dan materialisme membawaku menggali kebenaran-kebenaran alternatif, dan menghindari bentuk fundamentalisme yang tercipta dari diriku sendiri—baik itu fundamentalisme feminis, fundamentalisme nasionalis, atau fundamentalisme multikulturalis.
Agama telah mendorongku untuk tidak tunduk kepada sesuatu pun selain kepada Tuhan yang bersemayam di dalam kesadaranku. Agama mengajariku untuk tidak menyamakan otoritarianisme dengan otoritas. Anda mungkin ingin mendengar lebih jauh tentang hal ini, karena mereka yang menuduh semua keyakinan sebagai hal yang “irasional” kadang kala melupakan bahwa rasionalitas bisa menjadi sebuah fanatisme dalam dirinya sendiri.
Taslima Nasrin, seorang dokter dan feminis, mengatakan padaku bahwa “tidak ada kehidupan akhir. Jika kamu mati, kamu pun mati. Selesai. Berakhir.”
“Dari perspektif yang murni saintifik, memang seperti itu,” aku menanggapinya. “Tetapi, siapa yang bilang perspektif saintifik lebih superior daripada perspektif lainnya?”
“Karena memang seperti itu.”
“Tidakkah sikapmu itu juga bentuk kefanatikan?”
“Aku berperang demi kebenaran. Perempuan-perempuan yang lemah mencari perlindungan dalam agama, dan agama ada untuk itu. Agama diperuntukkan bagi kaum lemah, orang-orang yang rapuh, orang-orang yang malas, orang-orang yang tolol. Kenapa kita harus menjadi lemah dan rapuh?’
“Kau tahu, Taslima, para pengkritikmu bisa saja berkata bahwa kau terjatuh ke jurang yang sama. Ya, jurang yang kau kira orang-orang beragama jatuh ke dalamnya. Kau terlalu mendewakan sains.”
Dia tertawa. “Aku tidak mendewakan sains. Aku tunduk pada kebenaran. Bukan Kebenaran dengan K-besar, yang menjadi prerogatif Tuhan, tetapi kebenaran dengan k-kecil.”
“Tapi kamu tak percaya pada Tuhan.”
Setelah beberapa lama berdebat, K-besar Kebenarannya mencuat ke luar. “Aku ingin menghapus agama hanya karena agama itu berlawanan dengan kemanusiaan. Jika agama tidak berlawanan dengan kemanusiaan, aku tidak akan mempermasalahkannya.” Well, itu cukup masuk akal.
Yang kurang masuk akal adalah anggapan bahwa agama pasti “berlawanan dengan kemanusiaan” selamanya. Michael Moore, pendukung people power Amerika yang paling keras, mempelajari keadilan dari Katolosisme, kata teman dekatnya, Jeff Gibbs. Menurut Jimmy Carter, Menacim Begin dan Anwar Sadat saling berjabat tangan dan sama-sama menyatakan penghormatannya pada nilai-nilai Yahudi dan Islam. Seorang Hindu militan mengakhiri hidup Mahatma Gandhi, namun Gandhi menciptakan konsep perlawanan tanpa-kekerasan, atau satyagraha, dari Hinduisme dan Jainisme. Renungkanlah hal ini: Aku belum pernah mendengar seorang humanis sekuler mengkritik Dalai Lama atas pengabdiannya pada agama—dan begitulah kehidupan Dalai Lama seluruhnya.
Dalai Lama, Martin Luther King Jr., Desmond Tutu, Malcolm X—mereka bisa dimaafkan “mempunyai agama”, karena apa yang mereka lakukan dengan agama tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Mereka semua membebaskan diri mereka dan umatnya dari pola-pola kekerasan. Untuk dunia Islam, kita di Barat bisa menjadi pertanda reformasi ini. Kita bisa melakukan hal itu tidak semata-mata dengan cara menyalahkan para fasis Islam, tetapi dengan cara menolak untuk menjadi pemuja Islam yang terlalu fatalis, yaitu orang-orang yang melepaskan diri dari inferiority complex dengan cara menyerahkan tugas untuk melakukan perubahan kepada orang lain. Kita perlu menghentikan mentalitas korban ( victim mentality) kita sendiri.
Itu tidaklah mudah. Aku akan memberikan ilustrasi melalui kelompok “korban” yang hidup cukup nyaman: orang-orang Amerika-Afrika kelas menengah. Pada musim panas 2001, Michelle dan aku mengunjungi Atlanta, Georgia. Pada hari Sabtu kami berkunjung ke Jimmy Carter Presidential Center, sebuah lembaga yang dinamai dengan seorang pemimpin yang membuat hak-hak masyarakat sipil sebagai hal utama dari agenda domestiknya. Kecuali aku dan sepasang pekerja, setiap orang di Carter Center berkulit putih. Tidak ada pengunjung berkulit hitam sepanjang tiga jam kunjungan kami. Kemudian, kami pergi ke makam Martin Luther King Jr., sebuah landmark yang dipenuhi orang Amerika-Afrika dan hanya sedikit orang kulit putih terlihat di sana. Aku bertanya, berapa banyak orang yang akan ke Carter Center? Aku menyelidiki.
Tak seorang pun yang tampak ingin tahu tentang Carter Center. Sepasang pria dan wanita menyergah, “Kenapa harus menghabiskan waktu di tempat orang kulit putih?” Hmm, karena dengan memberikan penghormatan pada Martin Luther, Anda juga menghormati kebijakan penghapusan perbedaan. Bukan warna kulitnya yang membuat dia terhormat, tetapi karakternya.
Aku memahami rasa frustrasi warga Amerika-Afrika berkenaan dengan kemerdekaan. Sepanjang kunjunganku ke Atlanta, koran kota melaporkan bahwa beberapa daerah di Georgia membayar serangkaian biaya untuk “mengontrak para pengacara”. Para pengacara ini ada bukan untuk membela klien-klien mereka yang berkulit hitam dan miskin, tetapi untuk mempercepat penghukuman-penghukuman mereka, sehingga dengan begitu sekumpulan tertuduh berikutnya bisa diperlakukan dengan penghinaan yang sama. Tetapi sebagian besar orang yang ada di makam Martin Luther hari itu secara material tidaklah miskin. Mereka memamerkan sepatu Nike, kamera yang mahal, dan mobil SUV yang mewah. Orang-orang yang aku ajak berbicara tampak terlupa dengan pencapaian status kelas-menengah mereka—dan kepada presiden mereka yang membuat mereka makmur seperti itu. Percakapan lebih jauh mengungkap bahwa mereka memilih untuk tetap mengasihani diri sendiri, seperti beberapa orang Islam di Barat.
Kaum muslim harus ekstra hati-hati dengan sikap pasif. Karena fatalisme kita pada Tuhan, kita terlalu sering mengabaikan kemampuan kita sendiri. “Insya Allah,” kita secara instingtif berkata seperti itu. “Jika Allah menghendaki.” Tidak. Kita harus berkehendak. Kita harus bisa menjadi mitra Tuhan dalam memperjuangkan keadilan di dunia. “Tetapi siapakah kita?” Anda mungkin bertanya seperti itu. Pada akhirnya, telah tertanam dalam diri kita bahwa Allah Mahabesar!— “Allaahu Akbar!” Hanya ketika aku mendidik diriku aku mempelajari makna aktualnya—Allah adalah lebih besar. Lebih besar daripada makhluk-Nya. Benar, tetapi itu bukanlah pernyataan dari ketidakkonsekuenan kita. Yang paling mendasar, teriakan “Allaahu Akbar!” adalah sebuah pengingat untuk menyeimbangkan usaha kita dengan kepasrahan. Aku tidak bisa menjadi seorang narsis yang spiritual. Bisakah hal yang sama dikatakan terhadap orang-orang yang mengeluarkan fatwa melawan rasio? Dan terhadap orang-orang dari kita yang menertawakan para tukang fatwa?
Sepanjang masa hidupku, para teroris telah berkembang dari jumlah segelintir—tak lebih dari ratusan orang—menjadi ribuan bahkan ratusan ribu orang. Dalam periode yang sama, Vatikan secara resmi telah menghapus anti-Semitisme dan kemartiran ( martyrdom), dan lebih gencar berkampanye untuk melawan kekerasan seksual terhadap anak-anak dan perempuan. Aku menulis surat terbuka ini dengan membeberkan fakta dan kenyataan dari pihak mana pun. Reformasi liberal Islam bisa terjadi—meskipun kaum muslim tidak mempunyai seorang paus pun untuk bisa mempersuasi mereka. Dan kebungkaman bukanlah sebuah awalan.
Yossi Klein Halevi, seorang wartawan Israel, teman yang baik dan beriman kepada Tuhan, berpikir bahwa aku telah bersikap kasar terhadap Anda. “Islam adalah salah satu agama besar dunia,” dia mengingatkanku. Yossi menulis At the Entrance to the Garden of Eden, sebuah buku tentang usahanya untuk beribadah dengan kaum muslim dan Kristen di Tanah Suci. Dari semua muslim yang dia dekati, hanya kaum Sufi yang mempersilakan dia duduk seiring bersama. Banyak orang yang tidak tahu bahwa kaum Sufi, sesuai dengan deskripsi Yossi, adalah kaum yang “terpinggirkan” di dalam Islam.
Dia memohon kepadaku untuk mencari sebuah perspektif yang berbeda. “Agama-agama berkembang melalui masa-masa yang sulit. Pikirkanlah dua keyakinan monoteistik lain 1400 tahun setelah penemuan mereka: Kristianitas di zaman inkuisisi dan pembantaian besar-besaran ( massacre), dan Yudaisme pada zaman Perjanjian Lama.” Tetapi Islam yang relatif lebih muda sebagai sebuah keyakinan sulit membebaskan diri dari perilaku buruk para penganutnya—khususnya penjiplakan terhadap perilaku buruk kaum Islam fanatik di masa lalu. Yossi sendiri menceritakan sebuah kisah tentang pertemuannya dengan seorang Palestina yang dengan bahagia akan hidup berdampingan dengan orang Yahudi sepanjang mereka tunduk kepada aturan Islam—sebab aturan tersebut sudah merupakan hukum alam, demikian yang diyakini orang Arab didikan Boston itu. Itulah prasangka ( prejudice) yang kuyakini menguasai jiwa umat Islam arus-utama saat ini.
Yossi mengakhiri dengan nasihat dari seorang saudara yang lebih tua dan matang: “Apa yang kau katakan membutuhkan banyak cinta. Bukan untuk para mullah, tetapi untuk jutaan orang selama berabad-abad yang tak berdaya di atas sajadah sembahyangnya dan menawarkan kehidupan kecil mereka yang penuh derita kepada kebesaran Tuhan.”
Tetapi, kenapa begitu banyak jiwa terus-menerus menjadi “kecil” dan “menderita”, khususnya di bawah kebesaran Tuhan? Dan tolong jangan katakan padaku hal-hal ini terjadi ketika agama-agama berada dalam tekanan, karena bahkan ketika Islam memasuki masa keemasan, kehidupan tampak sangat tak berarti dan kedustaan begitu besar. Ingatlah bahwa Khalifah Al-Makmun mengumandangkan kehendak bebas, namun ia menyiksa rakyatnya yang tidak sepakat dengan interpretasinya atas Islam. Tidak banyak yang berubah, bukan?
Maka, aku kembali geleng-geleng kepala kepada Islam untuk yang terakhir ini. Apakah aku akan pergi begitu saja dari Islam itu terserah padaku. Dalam tingkatan yang lain, itu terserah pada kita. Apa yang perlu aku lihat adalah gairah untuk melakukan reformasi—sebuah gairah yang menggerakkan kita untuk bertindak.
v Akankah kita meninggalkan ritual-ritual kita dan menghidupkan imajinasi kita agar bisa membebaskan kaum muslim di seluruh dunia dari rasa takut, kelaparan, dan kebodohan?
v Akankah kita mencampakkan takhayul bahwa kita tidak dapat mempertanyakan Al-Quran? Dengan bertanya secara terbuka dari mana ayat-ayat Al-Quran itu berasal, bagaimana ayat-ayat tersebut bisa ditafsirkan secara berbeda, dan mengapa ayat-ayat tersebut saling berlawanan (sebagaimana ayat-ayat dalam setiap Kitab Suci), kita tidaklah melakukan kekerasan terhadap apa pun. Totalitarianisme tribal lebih berbahaya ketimbang itu.
v Jika ternyata analisisku salah, bisakah Anda menjelaskan kenapa tidak ada agama lainnya yang memproduksi sedemikian banyak parodi teroris dan pelanggaran hak asasi manusia atas nama Tuhan? Dan bisakah Anda menjelaskan hal ini tanpa menudingkan jari Anda kepada orang lain selain kepada kaum muslim?
Jawablah pertanyaan-pertanyaanku di atas dan kirimkan ke www.irshadmanji.com. Aku menunggu jawaban Anda untuk sebuah diskusi yang jujur.
Salam hormat,
Irshad
Catatan Akhir: Inilah lelucon tentang seorang pendeta, seorang rabbi, dan seorang mullah. Mereka bertemu dalam sebuah konferensi agama, dan setelah itu mereka duduk melingkar mendiskusikan keyakinan mereka yang berbeda. Percakapan sampai pada topik tentang halal dan haram.
Sang pendeta berkata kepada sang rabbi dan sang mullah, “Anda semua tidak bisa memberikan penjelasan padaku kenapa Anda tidak pernah makan daging babi.”
“Tak pernah,” sergah sang rabbi.
“Tentu saja tidak akan pernah!” tandas sang mullah.
Tetapi sang pendeta masih belum percaya. “Ayolah, tidak pernah makan sekali pun? Mungkin saja Anda memakannya saat masih muda dan suka berontak?”
“Baiklah,” aku sang rabbi. “Saat masih muda, saya pernah mencicipi sedikit dendeng babi.”
“Saya juga,” kata sang mullah sembari tertawa. “Saat masih muda dan arogan, saya pernah mencicipi irisan daging babi...”
Lalu percakapan beralih pada penyelidikan terhadap keagamaan sang pendeta.
“Anda tidak bisa menjelaskan pada saya kenapa tak pernah berhubungan seksual,” kata sang mullah.
“Tentu saja tak pernah!” protes sang pendeta. “Saya sudah bersumpah untuk hidup selibat.”
Sang mullah dan sang rabbi memutar-mutar matanya. “Mungkin saja Anda melakukannya saat lagi mabuk?” goda sang rabbi.
“Mungkin, saat mengalami godaan, iman Anda berkurang?” tanya sang mullah penasaran.
“Oke, oke,” sang pendeta mengakui. “Hanya sekali. Ketika saya sedang mabuk di seminari, saya melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita.”
“Hmmm… satu-satu kalau begitu.” Sang rabbi dan sang mullah tersenyum.
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to sign up for Irshad's confidential mailing list?
Click here to go to the subscribe page.
![]()
Click here to see photos of Irshad's latest
events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:




