BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 4 - Gerbang dan Korset
“…sebuah solusi yang rasional bagi konflik Palestina-Israel haruslah melalui jalan dialog dan tawar-menawar, bukan melalui pengeboman...”
( Aziz, tokoh Palestina yang terbunuh pada masa Yasser Arafat)
“SEBERAPA SULIT melakukan perjalanan ke Teritori?” tanyaku pada
Paul, seorangstaf organisasi yang mensponsori perjalananku ke Israel.
Tentu saja, yang akumaksudkan adalah Teritori Yang Diduduki, yaitu Tepi
Barat dan Jalur Gaza.
“Ooh,” bisiknya. “Sulit.”
Dua tempat itu adalah kawasan yang paling pelik dalam konflik Israel-Palestina. Proses perdamaian betul-betul berjalan alot dan kelompok Intifadah baru saja mengamuk. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang Palestina meningkat jumlahnya, dan Israel membalasnya dengan pendudukan kembali—permukiman ilegal Yahudi, serangan helikopter, pos-pos pemeriksaan, jam malam, dan penghancuran kamp Yasser Arafat di Ramallah. Israel tidak ingin mendapatkan beban tambahan untuk menjaga orang asing. Namun, ia tidak ingin dianggap sebagai negara yang menghalangi para jurnalis untuk meliput sisi lain dari peristiwa yang terjadi di negaranya.
Tanpa kuminta, Paul merencanakan akan mempertemukan aku dengan beberapa seniman dan intelektual Arab dalam kunjunganku ke sana. Mereka semua tidak takut mengkritik kebijakan-kebijakan Israel. Aku tetap harus pergi ke Teritori tersebut. Keempat jurnalis yang menjadi teman perjalananku merasakan hal yang sama.
“Mari kita lihat, apa yang bisa kita lakukan di sana,” kata Paul.
Pada saat tiba di bandara Toronto untuk penerbangan ke Tel Aviv, kami belum menerima kata ya ataupun tidak untuk mengunjungi Teritori.
Petugas El-Al, maskapai penerbangan Israel, menanyai setiap orang. Aku maju selangkah untuk memberinya salam. “Lahir di mana?” dia memulai.
“Uganda,” jawabku sembari memperlihatkan kartu tanda penduduk dengan fotoku. Aku merasa seperti dewi pengungsi yang tak mungkin ditolak oleh siapa pun.
“Uganda? Aku dari India, loh...”
“Seorang Yahudi Asia Selatan?” responsku coba-coba. “Bagaimana bisa?” Lalu, dia menceritakan sejarah keluarganya sebelum pembicaraan berubah menjadi serius kembali. Aku pernah sekolah ke mana saja? Apakah aku lulus dari semua sekolah itu? Pernahkah aku melakukan “rencana-rencana” bagi para kerabat, seperti mengirimkan paket atau mengantarkan paman yang lumpuh dari satu negara ke negara lain? Seusai pemeriksaan, dia menjadi bersemangat: “Aku mengenalimu di TV. Pertunjukan hebat!” Maksudnya QueerTelevision. Aku pun menunjuk ke pasanganku, Michelle, yang berdiri beberapa meter dariku, yang tampak cemas mengamati intensitas percakapan kami. Petugas itu tersenyum kepada Michelle dan mengucapkan selamat jalan kepadaku.
Michelle kemudian memotretku di depan sebuah papan bertuliskan King David Lounge (sebuah nama yang menurutku sangat tidak bermakna). Kami mengucapkan selamat tinggal. Senyum dan kegugupan campur aduk jadi satu. Senyuman berbisik, “Ini mestinya begini!” Kegugupan berbisik, “Mungkinkah ini mestinya…begini?” Michelle tidak mengalami gangguan saraf ketika ia terheran-heran: Tidak sampai dua puluh empat jam kemudian, seorang imigran Mesir menyerbu kios tiket El-Al di Los Angeles dan menembak jatuh dua orang. Penerbangan dari Toronto menuju Tel Aviv dimulai dari L.A. Seandainya aku terbang menunggu beberapa hari lagi, aku tidak mungkin sampai ke Israel lebih cepat—Michelle tidak akan membiarkan diriku pergi, dan aku tidak akan menyalahkannya.
Sembari merenungkan nuansa pertemuan seorang muslim Afrika Timur dengan seorang Yahudi Asia Selatan, aku memperoleh petunjuk lain tentang kompleksitas permasalahan Israel. Video keselamatan penerbangan, meskipun dinarasikan dalam bahasa Yahudi, ternyata memiliki teks terjemahan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa resmi di Israel. Siapa yang tahu fakta ini?
Aku mendarat tanpa insiden apa-apa. Perjalanan selama enam hari dibagi dalam dua tahap: Beberapa hari pertama akan dihabiskan di pusat komersial Israel, Tel Aviv, tahap kedua di ibu kota spiritual, Yerusalem. Kami juga akan mengunjungi kota-kota kecil yang penduduk utamanya adalah orang Arab-Israel. Dan, sepanjang perjalanan aku terus berharap bisa menginjakkan kaki di wilayah-wilayah Palestina. Ini adalah aktivitas yang cukup liar, aku tahu itu. Tetapi, selama satu hari penuh pada hari pertama di Tel Aviv, aku jadi paham bahwa orang Israel menghadapi kebalauan setiap hari.
Kebalauan itu mengambil bentuk budaya yang cair. Setelah makan siang, seorang jurnalis Israel memberitahuku sebuah produksi baru dari My Fair Lady berbahasa Yahudi dengan aktor utama seorang perempuan Arab. “Pada tahun 1980-an, ada usaha mendirikan Teater Nasional Palestina,” tambahnya. “Semua pertunjukan dihelat dalam bahasa Arab dan para pelaksananya secara aktif mengundang kritikus teater Israel. Kenyataannya, teater tersebut menarik peserta yang penuh gairah dari kalangan Yahudi liberal, tapi tidak pernah mendapat tanggapan dari orang Palestina.” Teater tersebut goyah setelah pendirinya, sepasang suami-istri, bercerai. Namun, gerakan Intifadahlah yang menggagalkan pergumulan antara Arab dan Yahudi di Museum Seni Tel Aviv, yang akan kami kunjungi.
Akan aku uraikan sedikit sebuah latar belakang. Museum ini berdiri pada tahun 1930-an, jauh sebelum negara Israel berdiri. Pada saat itu, unta masih banyak terlihat di jalan-jalan besar. Terangsang oleh ide bahwa kota kecil itu akan menjadi kota besar, dan bahwa setiap kota besar yang hebat harus beraliansi dengan para seniman, maka wali kota Tel Aviv menulis surat kepada para kolektor di seluruh dunia untuk memperoleh pinjaman. Kaum Yahudi Jerman, yang menghadapi ketidakpastian masa depan, mengirimkan harta kekayaan mereka kepada wali kota tersebut. Dengan begitu, pahatan-pahatan dan lukisan-lukisan yang mencengangkan lolos dari penyitaan atau pemusnahan Nazi.
Cerita berkembang semakin menarik. Seni yang semula hanya dinikmati oleh kalangan Yahudi kemudian bisa dirasakan bersama oleh kaum Yahudi dan kaum Arab. Selama tahun 1990-an, direktur sebuah galeri di Yerusalem Timur memamerkan benda-benda dari koleksi seni Tel Aviv dan, sebaliknya, meminjamkan barang-barang museum hasil kreasi komunitas Arab. Pada puncak proses perdamaian, seorang seniman Mesir memamerkan karyanya di Tel Aviv. Museum Tel Aviv mengatur beberapa karya pajangannya agar dapat dikirim ke wilayah-wilayah Palestina.
Sekarang, hal itu tidak lagi bisa terjadi. “Kami senang sekali melanjutkan kerja sama dengan dia,” kata seorang kurator dari Museum Tel Aviv tentang teman sejawatnya di Yerusalem Timur. Sejak Intifadah berdiri, dirinya telah mencoba berkomunikasi, tapi hasilnya nihil. “Teman Palestinaku itu mungkin terlalu ketakutan (terhadap Penguasa Palestina) untuk berhubungan dengan kami sekarang.” Mungkin? Kenapa ia beranggapan begitu? Aku sedikit mendesak, tapi tidak berhasil. Gaya bicaranya yang begitu halus akan membuat usahaku untuk mendorongnya berbicara lebih jauh pasti terkesan kasar. Tetapi aku akan segera kembali ke pernyataannya.
Saat aku meninggalkan museum itu, sebuah pemandangan yang kontras menyapaku. Bangunan batu Museum Tel Aviv yang membentang rendah itu terletak tepat di seberang Lembaga-lembaga Pertahanan Israel yang menjulang. Posisi berhadap-hadapan antara kreativitas dan hierarki-kekuasaan ini mungkin hanya kebetulan belaka, tapi hal semacam itu bisa ditemukan di mana-mana di Israel—tempat partai-partai politik Hasidik dan satu-satunya tempat parade tahunan kebanggaan kaum gay di Timur Tengah. Hal itu terlihat dalam salah satu percakapan pertamaku dengan seorang Israel, yaitu seorang jurnalis yang telah memberitahuku tentang Teater Nasional Palestina dan orang-orang Yahudi partisipannya. Dia melanjutkan pembicaraannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar dan berisiko tinggi: Haruskah Israel tetap menjadi sebuah “negara Yahudi”, atau haruskah ia berevolusi menjadi negara yang murni sekuler, di mana keyakinan hanyalah soal kecil? Dan peran apakah yang semestinya dimainkan oleh Holocaust, bukan hanya dalam sejarah resmi Israel tetapi juga dalam identitasnya di masa kini sebagai sebuah tempat perlindungan? Sudah sepantasnya, kupikir, jika seorang Israel saja menanyakan hal-hal ini secara terbuka kepada dirinya sendiri, apalagi orang asing seperti aku.
Selama kunjunganku, dalam faktanya, media Israel penuh gairah memperdebatkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Aku tidak menduga bahwa orang bisa menyerang agama di negara Yahudi. Ternyata aku salah. Aku membaca berita tentang seorang anggota Knesset, badan perancang undang-undang Israel, yang berkata bahwa negara tidak membutuhkan lagi imigran Yahudi religius dari Amerika Utara. Sebuah surat kabar mengembuskan komentar itu menjadi satu kehebohan kecil. Anggota Knesset tersebut kemudian mengklaim bahwa maksudnya adalah imigran Yahudi “ultra-religius”. Apa pun itu. Hukum Israel menjamin kebebasan berekspresi, dan itu menandakan sesuatu.
Aku sangat menikmati ketika membaca sebuah tajuk sebuah surat kabar di Israel, yang pilihan subjeknya mengindikasikan kebebasan pers yang garang. Misalnya Ha’aretz, New York Times-nya Israel. Surat kabar ini menghabisi rencana undang-undang pemerintah untuk mengalokasikan tanah-tanah negara secara eksklusif bagi kota-kota Yahudi. Tahukah Anda bagaimana Ha’aretz menggambarkan draf undang-undang tesebut? “Rasis.” Di sana, tepat di headline-nya, “Draf undang-undang yang rasis.” Tanpa basa-basi, tanpa permainan kata, tanpa permintaan maaf. Draf tersebut tak berkutik di bawah kritisisme Israel yang sangat kuat.
Aku harus memberi tahu Anda satu kontroversi lain yang sedang diberitakan di surat kabar selama perjalananku ke sana. Kontroversi tersebut seputar kejujuran jaringan berita asing dalam meliput konflik Palestina-Israel. Menteri Komunikasi Israel mengancam akan menolak CNN dan menggantinya dengan FOX. Ha’aretz merespons: Kalau Anda melakukan ancaman ini, Anda tidak lebih baik ketimbang Arafat, yang pernah membanting telepon saat berbicara dengan Christiane Amanpour dari CNN. Dalam membela prinsip ketimbang propaganda, surat kabar paling berpengaruh di Israel itu menegaskan: “Adalah hak rakyat Israel untuk tahu bahwa CNN dan BBC bukanlah cerminan dari sudut pandang resmi Israel…”
Secara sekilas, aku membolak-balik halaman surat kabar—hanya untuk menemukan lebih banyak lagi kritik terhadap diri sendiri. “Sudah cukupkah sejarah Yahudi memperhatikan capaian-capaian para pemimpin perempuannya?” tanya penulis. “Mungkin belum….” Ia meneruskan dengan cerita seorang bankir Yahudi bernama Dona Gracia Nasi, yang menyelamatkan ribuan orang dari Inkuisisi Spanyol dengan cara mempertaruhkan keahlian finansialnya dalam kekuasaan politik yang keras. Beberapa hari setelah artikel tersebut muncul, Israel memberikan penghargaan kepada seorang tokoh panutan perempuan yang lain. Untuk pertama kalinya, militer menjadikan seorang perempuan sebagai kepala juru bicaranya. Aku ingat diriku telah merenungkan bahwa dengan segala penggalian etisnya (dan mungkin karena hal itu), Israel adalah sebuah masyarakat yang tengah melangkah ke depan, bahkan saat negara ini bergulat dengan fundamentalisme agama di kalangan masyarakatnya.
Memasuki Yerusalem pada paruh kedua perjalananku, aku memperhatikan sebuah pemandangan melalui jendela mobil. Berseragam lengkap, seorang perempuan berbaris di depan selusin tentara laki-laki. Ke mana dia memimpin pasukannya? Aku menoleh ke pemanduku. Dia bilang, mereka menuju ke Kota Tua—wilayah religius Yerusalem—“tempat mereka akan bertugas selama tiga hari atau lebih untuk dididik tentang beragam keyakinan yang eksis di sini.”
“Maksudmu, pengetahuan tentang agama-agama adalah bagian dari tugas militer?”
“Ya, benar. Angkatan Darat memberikan kesempatan setiap beberapa bulan kepada tentara yang ditempatkan di Yerusalem untuk mempelajari tradisi-tradisi di luar pengalaman mereka sehari-hari.” Aku mempelajari nilai program ini secara pribadi pada sore berikutnya.
Aku dijadwalkan mengunjungi Kubah Batu ( Dome of the Rock). Tempat tersuci ketiga Islam ini bisa dikenali seketika dari atap keemasannya, yang cahaya gemerlapnya menawan hati, merangsang matahari untuk terbit dan terbenam setiap hari. Tradisi-tradisi Islam mengatakan bahwa masjid ini menyimpan sebuah batu istimewa—tempat Nabi Muhammad menjejakkan kaki dalam “Perjalanan Israk Mikraj”. Di batu itu, Muhammad mendapatkan tangga spiral yang membawanya ke surga, tempat dia bertemu dan shalat bersama nabi-nabi sebelumnya, serta mengambil hikmah dari mereka. Cerita inilah yang membuatku jatuh cinta pada Islam, mendefinisikan potensi agamaku dalam soal pluralisme. Tetapi, jika hanya itu saja yang menyangkut sejarah situs ini, aku bisa berjalan tanpa harus cemas dan mungkin juga tanpa kerudung. Sayang, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kubah Batu berdiri di atas landasan Kuil Bukit, yang diklaim oleh tradisi Yahudi dan banyak arkeolog sebagai lokasi kuil utama kerajaan kuno Nabi Daud. Di situ juga tempat meletusnya kerusuhan pada bulan September 2000, memicu gerakan Intifadah yang terakhir. Beberapa hari sebelumnya, Ariel Sharon yang sedang naik daun melakukan napak tilas ke Kuil Bukit. Setelah kegagalan proses perdamaian di mana Israel menawarkan pembagian Yerusalem, Sharon ingin memberikan kesan ia hanya mencoba untuk menunjukkan bahwa tempat terbuka di seputar Kuil Bukit tetap terbuka bagi orang Yahudi. Siapa yang dia bodohi? Sebagai teman kaum Yahudi konservatif, dia merasa bahwa kunjungan semacam itu akan mendukung kampanye informalnya untuk menjadi perdana menteri. Sebuah pantomim politik yang sinis.
Berbicara tentang politik sinis, kepala keamanan Arafat di Tepi Barat telah menyetujui terlebih dulu kunjungan Sharon. Seorang menteri kabinet Palestina kemudian mengungkapkan bahwa Arafat telah merencanakan Intifadah selama berbulan-bulan. Dia butuh provokasi, dan tepat begitulah makna wisata Sharon ke Kuil Bukit di mata orang Palestina—sebuah provokasi. Gerakan Intifadah pun dimulai, dan gerbang-gerbang besi yang menuju Kubah Batu dan masjid di dekatnya, Masjidil Aqsa, ditutup rapat bagi semua orang kecuali kaum muslim lokal. Sejak saat itu, bagian dari wilayah Yerusalem kuno ini—yang pernah menjadi daya tarik bagi kaum Yahudi, Kristen, dan orang-orang dari keyakinan lain—telah dihampakan dari energi ekumenisnya.
Aku muncul di gerbang-gerbang itu dengan gaun buram yang menutupi mata kakiku, dengan kardigan lengan panjang yang berkancing hingga ke atas. Aku segan meratakan potongan rambutku yang menusuk ke atas. Namun demikian, rambutku itu telah jinak oleh kerudung yang membungkus rapat kepalaku. Kementerian luar negeri Israel telah memberikan informasi kepada para pengurus situs ini—sebuah otoritas agama yang dikenal dengan nama Waqf—bahwa aku akan datang. Pesannya: Jangan terlalu menyulitkan dia, Tuan-tuan... Dia salah satu dari Anda.
Tidak juga.
Seorang petugas Waqf yang tinggi besar memperhatikanku dari atas sampai ke bawah. Dia menyangkal telah menerima pesan apa pun dari kementerian. Pemanduku meyakinkan dia bahwa pesan telah dikirim. Petugas Waqf itu berbicara di walkie-talkienya dan, dalam beberapa menit, seorang laki-laki berjenggot melenggang santai. Saat itu aku tidak menyadari apa-apa kecuali bahwa penundaan itu berkaitan dengan ada tidaknya pemberitahuan resmi. Irshad, namaku, bisa dipakai untuk lelaki maupun perempuan, namun jauh lebih umum digunakan bagi laki-laki ketimbang perempuan. Ketika kementerian luar negeri Israel memberi isyarat kepada Waqf tentang diriku, aku berani bertaruh bahwa mereka pasti mengira akan kedatangan seorang laki-laki.
Karena aku tidak memiliki penjaga laki-laki muslim, apa yang harus dilakukan sekarang? Tawar-menawar berakhir ketika seorang petugas dari kepolisian Yerusalem setuju untuk menjagaku di dalam gerbang. Tetapi, sebelum aku bisa melangkah di tanah suci itu, sebuah peraturan lagi harus dilewati. Seorang petugas Waqf datang berlarian dengan sebuah korset di tangan dan menyuruhku memakainya. Belum sempat merasa gusar, aku mulai bergetar di dalam pakaian itu. “Ck, ck, ck!” Ke atas aku melihat secara sekilas sebuah jari pendek dan besar bergerak-gerak cepat. Dia ingin agar korset itu dikenakan di luar gaunku, bukan di dalam gaunku.
Sampah! Pakta Umar menyerang lagi! Mengenakan korset sebagai pakaian luar adalah sebuah persyaratan yang harus dipatuhi semua orang zhimmi. Aku, seorang muslim Perempuan Barat, dianggap setara dengan minoritas religius dalam pandangan Waqf. Sialan. Aku mungkin dianggap seorang Yahudi yang menyamar. Lebih mungkin lagi, aku dianggap orang rendahan semata.
Aku menggigit lidah, mengetatkan kerudungku untuk perjalanan yang tak mudah di depan, menarik napas dalam-dalam, dan menggerakkan tubuhku ke kanan dan ke kiri agar korset ini bisa menutupi pinggulku. Melalui penjagaku, aku bilang pada orang yang memaksaku memaki korset bahwa korsetnya tidak bisa menutupi pakaianku. Penjagaku itu cemberut. Aku ingin membentaknya balik, “Terimalah kenyataan ini!”
Petugas Waqf setuju jika korset tersebut aku pakai di bawah gaunku. Anak-anak muslim yang masih bau kencur menatapku tanpa rasa berdosa saat aku dengan hati-hati sekali bergoyang-goyang mengenakan korset itu. Terima kasih Tuhan karena aku memutuskan untuk mengenakan sesuatu yang lain di dalam bajuku pagi ini—celana pendek untuk bersepeda.
Dengan meninggalkan rasa malu, aku dan penjagaku berjalan melewati gerbang. Sebentar-sebentar kami berhenti, karena korset itu mengganggu langkahku. Di samping menemaniku di seputar landasan yang terbuka, yaitu Kuil Bukit, seorang petugas polisi juga membumbui tur informal kami dengan sedikit sejarah Islam. Dia adalah bekas tentara dan mengingat banyak hal yang dipelajarinya dalam pendidikan wajib untuk melakukan serangan mendadak ke dalam Kota Tua. Sedangkan untuk pertanyaan-pertanyaan khusus, aku harus bertanya kepada Waqf. Apakah Anda tahu bahasa Arabnya “tidak apa-apa”? Petugas Waqf itu bahkan tidak mau memotretku sebagai kenang-kenangan bagi temanku di rumah, apalagi ikut serta dalam percakapan. Sungguh ganjil membutuhkan seorang Yahudi untuk menyambutku di sini. Atau, dari sudut pandang teologi kita yang sama dan sejarah Kuil Bukit selama berabad-abad, kehadiran seorang Yahudi itu mungkin sangat tepat.
Polisi penjagaku membawaku ke pintu Masjidil Aqsa. Saat aku sedang melepas sandalku, lalu merapikan kerudungku sebagai persiapan memasuki masjid, seorang laki-laki tua menyorongkan tubuhnya ke tembok dan menghalangi jalanku. Aku dan penjagaku mencoba meyakinkan dia bahwa aku sudah dibolehkan masuk. Tapi, entah kenapa dia tidak paham atau tidak mempercayai kami. Kami lalu menelepon Waqf. Mungkin ini sisi Buddhisku, tapi aku tidak mengharapkan apa-apa dari mereka dan, hasilnya, aku tidak kecewa. Petugas Waqf tidak meminta izin kepada laki-laki tua itu. Ia sendiri yang membukakan gerbang bagiku. Tibalah sebuah jeda panjang di mana kami semua berdiri melingkar sehingga terlihat mirip seperti negara muslim yang terpecah-pecah.
Lalu si kakek tua itu, dengan memandang langsung ke arahku, membacakan ayat pertama Al-Quran. “Bismillaahir rahmaanir rahiim!” Ada sesuatu dalam perubahan nada suaranya. Apakah dia sedang mengetesku untuk melanjutkan ayat berikutnya?
Aku menyambungnya dengan cepat. “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin!”
“Arraahmaanir rahiim,” lanjutnya.
Bertahun-tahun pendidikan di madrasah telah membawaku ke tahap berikut ini, yaitu mengucapkan sebuah doa bersama lelaki tua kasar di Kuil Bukit Yerusalem. “Maaliki yaumiddiin,” balasku lagi. Setelah beberapa ronde, jelaslah bahwa aku sudah cukup untuk membuktikan keyakinanku, sehingga kakek itu harus bertanggung jawab kepada Allah karena telah menghalangi hak seorang muslim untuk beribadah di tempat ini.
Dengan enggan, orang tua itu menuntunku masuk ke dalam—dengan satu persyaratan terakhir. Selama berada di dalam masjid, katanya, aku harus menyerahkan kameraku karena memotret makhluk apa saja yang memiliki jiwa, berarti melakukan dosa syirik. Sebentar, sebentar... Bukankah kaum muslim yang, di zaman keemasan Islam, memelopori gambar optik? Bukankah penemuan mereka mempengaruhi fotografi abad ke-19? Kusingkirkan pikiran itu. Akal sehat mendikteku untuk menutup mulutku dan menyerahkan kamera ke tangan penjagaku.
Suasana di dalam Masjidil Aqsa sangat jauh berbeda dari kosmos beku si kakek itu. Tempat suci ini boleh ditempati dua jenis kelamin berbeda. Tidak ada tembok fisik yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Aku hanya melihat seorang perempuan duduk di karpet yang ditenun indah, dan menjaga jaraknya beberapa langkah dari para lelaki yang sedang beribadah. Tapi setidaknya, dia ada di sana, di antara mereka. Beberapa laki-laki tampak tenang. Yang lainnya bersandar di pintu-pintu yang dirancang dengan sangat indah atau terlentang di lantai, kehabisan energi karena panas siang hari. Itulah sebabnya aku merasa pengawasan sedikit longgar saat aku berjalan-jalan santai.
Koreksi: Aku tidak merasa diawasi oleh penguasa yang menunjuk diri sendiri sebagai penguasa. Namun, aku merasa sedang diselidiki. Di sudut yang jauh, sekelompok anak laki-laki tertawa-tawa menyaksikan aku mengelus tiang-tiang yang luar biasa bagusnya dan menolehkan kepala ke berbagai arah saat melihat ke atas dan ke sekelilingnya. Guru mereka secara halus menyuruh mereka diam. Aku bergerak ke arah guru itu dengan hati-hati, tidak yakin apakah aku akan menyebabkan masalah. Dia tersenyum dan menyapaku dengan bahasa Arab, lalu berpindah ke bahasa Inggris ketika menyadari bahwa itulah bahasa yang kupakai. “Dari mana Anda berasal?”
“Toronto.”
“Oh, Andalah orangnya. Ya, kami menunggu kedatangan Anda.” (Jadi betul, kementerian Israel memang memberi tahu kepada Waqf! Itulah petunjuk rahasia adanya lebih banyak agenda politik yang sedang dimainkan di dalam taktik penundaan yang kualami di gerbang.)
“Terima kasih. Saya senang. Saya tidak mengagetkan siapa pun.” Aku merasakan suasana hangat di antara kami. “Apakah saya boleh memotret Anda dan murid-murid Anda, Tuan? Itu sangat berharga buatku.”
“Tidak masalah,” jawabnya.
Aha! Tidak setiap orang setuju dengan si kakek bahwa memotret makhluk adalah sama dengan memujanya. Jika seorang pengajar Al-Quran bisa menahan diri dari mereduksi teks-teks suci menjadi sekadar kedangkalan yang mematikan rasa, mungkin saja ada aneka penafsiran di medan panas Palestina ini. Tantangannya adalah: Bisakah mengekspresikannya tanpa rasa takut akan pembalasan dendam?
Sekarang, aku mendapatkan kesempatan untuk memotret. Masih mengenakan korset, aku berjalan seperti bebek keluar dari masjid, dengan diam-diam menarik perhatian penjagaku, mengambil kamera, dan melaksanakan pekerjaan kotor (memotret) itu. Saat aku berterima kasih kepada pak guru itu dan murid-muridnya, sesuatu menarik pandangan mataku: Salah seorang murid mengenakan T-shirt bertuliskan huruf Yahudi. Jika di tempat lain, aku tidak akan memperhatikan tulisan itu untuk kedua kalinya. Tetapi, di tempat asal gerakan Intifadah yang masih terus berlangsung ini, Anda sebaiknya percaya bahwa aku menyaksikan tulisan itu untuk kedua kalinya.
Perhentian berikutnya adalah Kubah Batu, di mana aku lihat kebanyakan perempuan dan anak-anak tengah menyelesaikan shalat mereka. Aku juga menemukan sebuah interior muram yang berbeda dengan warna cerah Masjidil Aqsa. Mungkin hal itu disebabkan lampu-lampu sorot yang menyinari batu di tengah-tengah masjid. Akibatnya, tempat lain jadi terlihat gelap. Aku mendekati daya tarik utamanya. Karena terpagari jeruji kayu yang tinggi, permukaan batu itu hampir tak terlihat jika tubuh Anda pendek. Sialnya, tubuhku pendek. Sehingga, aku mencari-cari hal lain yang menarik, dan perhatianku tertumbuk pada sikap ramah seorang perempuan di masjid ini.
Perempuan itu adalah seorang kepala sekolah yang tinggal di New Jersey, lahir di Yerusalem, dan sering pulang untuk mengunjungi saudara perempuannya. Selama mengobrol, kepala sekolah ini tahu bahwa aku bekerja di televisi, dan menginginkanku kembali menampilkan sebuah serial. “Tolong,” pintanya dengan penuh harap, “pekerjakan orang-orang dari kamp-kamp pengungsi kami untuk membantu Anda. Jika mereka tidak tahu tentang kamera video atau mikrofon, Anda bisa mengajari mereka.”
Aku bergurau bahwa membuat acara TV sama seperti politik Israel-Palestina—sebuah proses yang sangat rumit sekadar untuk mendapatkan hasil yang sederhana. Dia kurang memahami gurauan itu, karena terkacaukan oleh krisis yang ada. “Rakyat kami putus asa. Tidak ada pekerjaan. Sudah lama sekali tidak ada pekerjaan.
“Bagaimana dengan semua bantuan asing dari Barat yang didapat oleh Otoritas Palestina?” aku balik bertanya. Aku tidak menyebutkan dana-dana tambahan dari lembaga PBB yang diperuntukkan bagi para pengungsi Palestina selama tiga generasi. “Kita membicarakan bantuan jutaan dollar yang dapat digunakan untuk membangun laboratorium, rumah sakit, sekolah, dan usaha-usaha wiraswasta. Kenapa masih ada kamp-kamp pengungsian? Ke mana semua bantuan itu?”
“Aku tidak tahu tentang semua itu, tapi beberapa di antaranya…” Dia membuat gerakan seolah memasukkan uang ke kantong baju.
“Dikorupsi?”
“Lihat ke situ,” katanya bersungut, dia mengarahkan tubuhnya ke sebuah tiang masjid yang retak. “Kaum muslim bahkan tidak punya uang untuk merawat tempat yang indah ini.”
“Tunggu sebentar,” jawabku, sedikit masam. “Apakah karena kita tidak punya uang atau karena kita tidak punya pemimpin yang bisa menggunakan uang untuk hal-hal yang tepat?”
“Hanya Tuhan yang tahu.” Sebetulnya, jawabannya ada pada tarikan napas selanjutnya. “Beberapa orang bilang, ‘Jangan khawatir selama masjid ini terlihat kuat dan kokoh dari luar.’ Mereka hanya peduli pada simbol-simbol, bukan pada orang-orangnya.”
Sore telah beringsut dan ada satu lagi perhentian sebelum aku makan malam. Dengan terburu-buru aku mengambil beberapa gambar—perempuan, tiang, anak-anak, batu—dan kemudian pergi, dengan dada sesak akibat ketidakadilan internal maupun korset sial ini. Penjaga mengantarku ke gerbang semula. Kali ini, kuseret kakiku ke belakang sebuah bangunan kecil dan kumuh untuk membebaskan diri dari pakaian yang menyesakkan ini. Dengan gembira kukembalikan benda itu ke Waqf. Apa yang tidak akan kuberikan kepada mereka adalah kesempatan kedua untuk melirik (saat aku sedang melepas korset ini— Penerj.).
Tidak ada yang melecehkanku di Tembok Barat. Aku tahu bahwa para perempuan Yahudi berjuang sendiri agar dapat berdoa secara setara dengan laki-laki. Ada wanita yang diludahi, diserang secara fisik, bahkan dimasukkan ke dalam penjara. Kasus-kasus pengadilan masih diperjuangkan. Berbeda dengan pengalaman bersama Waqf, aku sungguh berterima kasih bahwa tak seorang pun menatapku di Tembok Barat. Atau memerintahku mengenakan korset yang sama menyiksanya dengan bebatan lakban, atau mencecarku dengan ujian hafalan ayat-ayat Al-Quran. Ketegangan seperti itulah yang mengintimidasiku.
Tembok Barat adalah dinding batu yang memiliki celah yang sangat banyak. Di dalam celah-celah itu terselip sobekan-sobekan kertas bertuliskan doa orang-orang Yahudi dari seluruh dunia. Mereka berkumpul menghadap dinding itu karena, menurut kepercayaan Yahudi, dinding itulah satu-satunya sisa kuil yang pernah berdiri di tempat di mana Kubah Batu sekarang berada, di Kuil Bukit. Sulaiman putra Raja Daud, mendirikan sebuah kuil sebagai pusat persembahan kurban bangsa Israel kuno kepada Tuhannya. Bangsa Babilonia menghancurkan Kuil Pertama tersebut, dan bangsa Yahudi membangun Kuil Kedua pada sekitar 515 SM. Pada tahun 70 M, bangsa Romawi menguasai Yerusalem, meratakan Kuil Kedua, dan mengusir bangsa Yahudi dari kerajaan mereka. Selama berabad-abad, kaum Kristen membiarkan Kuil Bukit mengalami kehancuran sebagai sebuah saksi atas kehancuran Yudaisme. Tetapi, sebagaimana Anda ketahui, kaum muslim akhirnya menguasai kota suci tersebut. Mereka membubuhi Kuil Bukit dengan jejak-jejak islami di atasnya—pertama Masjidil Aqsa, lalu Kubah Batu. Meskipun kaum muslim membuka kembali Yerusalem bagi kaum Yahudi, Kuil Kedua masih tetap kacau balau. Kaum muslim tidak pernah memperbaikinya. Dan bagi kaum Yahudi Ortodoks, memang begitulah seharusnya: Merekonstruksi kuil adalah pekerjaan sang Messiah, yang masih mereka tunggu kedatangannya hingga kini. Sampai saat itu tiba, Tembok Barat berfungsi sebagai pusat komunitas Yahudi—sebuah tugu-peringatan-tanpa-atap dari masa lalu, masa depan, kekuasaan, dan kerendah-hatian.
Aku sampai di sana lumayan cepat karena dinding tersebut menyatu dengan kawasan muslim di Yerusalem. Awalnya, aku kagum dengan adanya saling-kebergantungan antara kaum muslim dan Yahudi, bahkan hingga menyangkut rancangan struktur bangunan Kuil Bukit. Belakangan, aku menemukan sebuah artikel surat kabar yang mencatat betapa saling-kebergantungan ini menjadi percekcokan karena kaum Yahudi harus meminta-minta kepada Waqf untuk memperbaiki kebocoran air di Tembok Barat. Demi perdamaian, Anda lihat, Israel telah memberikan kaum muslim bagian kekuasaan yang cukup besar dalam merawat Kuil Bukit. Kita tidak sedang membicarakan kedaulatan, tetapi kontrol administratif. Kaum muslim menguasai seluruh jalan ke Tembok Barat, dan mencakup apa saja di belakangnya. Misalnya, tiang yang rusak di Kubah Batu. Anda dapat menyalahkan pendudukan Israel atas banyaknya kerusakan, tetapi bukan yang satu ini.
Aku meminjam sebuah pensil dan menulis sebuah doa kepada Tuhan, lalu menyibak kerumunan orang untuk mendekati Tembok. Saat aku menghabiskan waktu untuk mencari celah kosong guna menyelipkan kertas doaku, aku baru menyadari bahwa tubuhku menghalangi orang Yahudi di belakangku. Tapi aku toh tidak merasa menjadi seorang penyelundup. Aku merasa di rumah sendiri. Jauh di lubuk hatiku, aku tahu siapa keluargaku sesungguhnya.
Anda boleh menyebutku orang yang sentimentil, tetapi pahamilah hal ini: Ketika aku mengatakan “keluarga”, bayangan di kepalaku bukanlah Nabi Muhammad atau bahkan Ibrahim, tapi seorang bocah yang aku tabrak—sebetulnya, dialah yang menabrakku—sebelumnya di hari itu. Saat sedang mencari jalan menuju Kubah Batu, pemanduku membawaku melewati perumahan Yahudi di Kota Tua. Kami berjalan ke tempat pertemuan lembap yang terpahat dari batu dan penuh gema suara teriakan anak-anak. Mereka memanjat dan meloncat dari puing-puing reruntuhan. Pemanduku bilang, dahulu ini adalah tempat yang dirasa aman oleh para ibu yang Ortodoks untuk membawa anak-anak mereka bermain, terutama selepas dari yeshiva (sekolah keagamaan orang Yahudi). Beberapa detik kemudian, muncul seorang anak laki-laki dari kelokan dan menabrakku. Ia memakai kippa (kopiah khas Yahudi), berambut ikal yang menjuntai dari pelipisnya, dan serat-serat selendang-sembahyangnya menjulur ke luar di atas celana baggy hitamnya. Dia mengendarai skuter perak ramping—satu lagi ilustrasi mengenai sebuah masyarakat yang tengah bergerak, digerakkan oleh paradoks-paradoksnya. Jika bahkan kaum Yahudi fundamentalis tidak harus mengisolasi diri mereka dari modernitas, berapa banyak lagi kesempatan untuk memilih dan meleburkan gairah-gairah, yang harus dinikmati oleh warga Israel arus-utama?
Ketika aku mengungkapkan hal ini kepada seorang teman perempuan Israel, dia pun menceritakan pengalaman pribadinya. Besar di Inggris, tercerabut dari akar Yahudinya, sebagai seorang remaja Isabel Kirshner membuka dirinya terhadap semua pengalaman saat tiba di Israel. Itulah kisah bagaimana dia “dipungut” ke Tembok Barat oleh seorang Yahudi Ortodoks yang menawarkan studi gratis di sebuah yeshiva. Kedengaran menyeramkan bagi orang yang sangat berhati-hati. Tetapi, kepribadian Isabel bagaikan sepucuk pistol. Dia pun berangkat dan, “Suasananya menyenangkan,” katanya padaku di sebuah restoran Italia di Yerusalem. “Mereka baik hati dan tulus. Mereka mendorongku untuk bertanya. ‘Teruslah bertanya,’ mereka akan bilang begitu padaku. Akhirnya, mereka tidak dapat lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku, lalu mereka mengirimku ke seorang rabbi. Setelah beberapa minggu, aku meyakini bahwa aku telah memahami tujuan yeshiva, dan pergi untuk sesuatu yang lain. Itu adalah pengalaman yang indah. Sama sekali bukan hal yang menyeramkan.”
Sekarang, sebagai seorang koresponden senior untuk majalah The Jerusalem Report, Isabel mendapatkan pengakuan publik sebagai seorang jurnalis yang kariernya sedang menanjak.
Aku menyadari bahwa tidak setiap yeshiva sama seperti yeshiva yang didatangi Isabel. Jim Lederman, seorang koresponden luar negeri terlama bagi Israel, menambahkan sebuah perspektif penting. Dia menulis bahwa “para rabbi ultra-ortodoks melarang para pengikutnya menggunakan internet karena apa yang mereka pelajari mungkin bisa merusak. Akhir-akhir ini, mereka setuju mendirikan lembaga yang mereka sebut universitas. Tetapi…mereka secara khusus telah melarang studi sejarah, sastra, ilmu-ilmu yang membahas teori evolusi seperti biologi, astrofisika, dan juga filsafat.” Aku akan membahas lebih jauh perspektifnya.
Tekanan untuk melakukan kompromi akan selalu muncul di mana pun. Menurutku, hal ini merupakan bagian dari kondisi manusia. Apa yang dicoba lakukan oleh Israel secara berbeda, sebagai sebuah bangsa, aku menghargainya. Israel memberi warganya izin untuk menyelidiki dan mengakumulasi pengalaman. Di sini, seorang feminis bisa menuntut akses setara menuju Tembok Barat kepada pemerintah. Di sini, seorang gadis remaja bisa membayangkan meninggalkan yeshivanya tanpa takut terkena stigma. Di sini pula, seorang bocah laki-laki Hasidik bisa berkeliling dengan mengenakan simbol-simbol anak muda yang trendi. Kemudian, di sini sekelompok orang akan menyaksikan bagaimana potensi diri mereka berubah menjadi banyak hal dalam seketika, mencerminkan Tuhan sendiri yang perwujudan-Nya tak terhingga banyaknya.
Perjalanan ke wilayah Palestina dilanjutkan! Ya, sebuah wilayah—Tepi Barat. Saat sarapan, kami diberi keterangan singkat oleh seorang diplomat yang bekerja langsung dengan orang Palestina. Dia mempercayai mereka. “Ini adalah masyarakat yang—jika diberi kesempatan—mampu mengatur diri sendiri.” Tapi, “diserahkan kepada mereka” berarti lebih dari sekadar mengakhiri pendudukan Israel. Dia mengisyaratkan bahwa hal itu juga berarti mengganti kekuasaan angkuh Arafat dengan sebuah pemerintahan yang peduli terhadap keinginan rakyatnya, betapapun akibat dari keinginan itu tidak mengenakkan bagi para nasionalis. “Orang Palestina telah belajar banyak dari orang Israel. Dalam banyak hal, mereka ingin menyamai orang Israel,” kata si diplomat, ketika kami berdesakan di dalam kendaraan anti-pelurunya. “Sopirku pernah bercerita kepadaku, ‘Yang kita butuhkan di sini adalah supremasi hukum, seperti yang dimiliki di Israel.’”
Diplomat ini tampaknya merasa sudah bicara terlalu banyak. Gugup karena temperamennya, lihai karena latihannya, dia terdiam selama setengah jam perjalanan menuju Ramallah. Itu bukan berarti tidak ada lagi hal yang perlu didiskusikan. Setelah melewati pos pemeriksaan pertama, kami berhenti di lampu lalu lintas. Di bahu jalan berdiri sebuah billboard raksasa bergambarkan seorang bayi. Sebaris tulisan Arab memampang semacam slogan. Aku meminta si diplomat, yang menyetir sendiri pagi itu, menerjemahkan kalimat Arab itu. Dia pura-pura tidak mendengar, lalu pura-pura tidak melihat, dan akhirnya menggerakkan lehernya untuk “melihat lebih dekat”. Pada saat itu lampu lalu lintas berganti dan kami melaju cepat. Ini bukanlah satu-satunya gerakan-cepat yang kami alami pada hari itu.
Kami datang ke Ramallah pada hari ketika tentara Israel telah mencabut jam malam, sehingga murid-murid sekolah bisa mengikuti ujian mereka. Jalan-jalan dijejali orang berbelanja, berlomba dengan waktu untuk membeli barang persediaan untuk jatah seminggu. Sebuah kereta kuda diparkir di antara Jaguar tua dan Audi baru. “Didanai oleh Komisi Eropa”, bunyi pengumuman-pengumuman di berbagai lokasi pembangunan gedung yang menyerupai gubuk-gubuk. Bangunan-bangunan itu bobrok dan beberapa bahkan ditambal dengan papan-papan. Kami berhenti di sisi jalan yang becek, di satu ujung yang menjadi tujuan kami, sebuah misi diplomatik. Dari luar, tempat ini sebetulnya anonim, sementara di dalam, suasananya terasa kurang bergairah.
Namun, aku merasa diriku harus terus mengantisipasi keadaan. Di antara para aktivis Palestina yang akan kami temui di sana adalah Raja Shehadeh, seorang penulis, pengacara, dan pendiri organisasi kemanusiaan non-partisan Al-Haq (“Kebenaran”). Aku ingin menemuinya karena, setidaknya menurut publikasi, dia lebih daripada sekadar boneka yang digerakkan oleh kekuatan tertentu untuk menyalahkan “orang lain”. Di halaman surat kabar, Shehadeh memancarkan sesuatu yang berbeda. Aku ingin ngobrol dengannya tentang buku terakhir yang ia tulis, Strangers in the House: Coming of Age in Occupied Palestine.
Buku tersebut memuat foto ayahnya, Aziz, tokoh Palestina berpengaruh pertama yang menerima keberadaan Israel dan mengemukakan sebuah solusi tentang dua negara. Menurut Shehadeh, antek-antek Arafat merespons Aziz dengan mengecapnya sebagai “pengkhianat laknat” di radio Arab. “Kau akan bayar pengkhianatanmu ini,” tegas suara parau Arafat. “Kami akan melenyapkanmu. Membungkammu selama-lamanya. Menjadikan dirimu contoh bagi yang lain.” Serikat Pengacara Palestina membatalkan keanggotaan Aziz. Beberapa tahun kemudian, dia terbunuh secara misterius. Menurutku, mencantumkan namanya di sebuah buku yang begitu berani menandakan keinginan Shehadeh untuk berbicara lebih banyak tentang hambatan-hambatan lokal yang merintangi perdamaian.
Dia tidak ada di dalam gedung ketika kami tiba. Tetapi, dua aktivis yang lain sudah menunggu. Yang pertama, Dr. Ali Jirbawi, seorang ilmuwan politik. Setelah menyampaikan kuliah sejarah yang panjang, dia merangsang kami dengan argumen yang menyentuh hati. “Mari jangan bohongi diri sendiri. Tak pernah ada pendudukan yang ramah. Pendudukan berarti kau kehilangan kontrol atas nasibmu sendiri. Kau menyaksikan di pos pemeriksaan yang kau lewati bahwa kami tidak dapat bergerak ke mana-mana.” Pos pemeriksaan ini sama artinya dengan pengekangan terhadap orang-orang Palestina.
(Dari perspektif Dr. Jirbawi, rintangan pengaman yang baru dibangun hanyalah bentuk pembatasan yang lain. Lintasan pengaman itu membelah kampung-kampung Arab, memaksa pedagang menggunakan anak-anak kurus kering yang cekatan sebagai kurir barang dan pesanan. Anak-anak adalah satu-satunya yang dapat menyelinap di antara lubang-lubang beton perintang. Ini tidaklah baik untuk perekonomian Palestina—atau bagi martabat orang Palestina).
Hentikan bom bunuh diri, kata seorang jurnalis di ruangan itu, dan setiap pihak akan menahan diri masing-masing. Dr. Jirbawi membantah bahwa orang Palestina memiliki kebebasan bergerak yang lebih besar dibandingkan sebelum munculnya rentetan ledakan. Dia mengeluarkan kartu-tanda-melintas berwarna hijau dari kantong di dadanya, “Aku membawa ini ke mana pun aku pergi. Di kota lain, mereka membawa kartu macam ini dengan warna lain. Plat lisensi kami diwarnai berbeda. Ini sama dengan apartheid.” Lalu kenapa, sambung yang lain, Arafat keluar dari pertemuan musim panas 2000, meninggalkan kesempatan paling bagus yang pernah ada untuk menjadi negara merdeka—sebuah rencana yang dimediasi oleh Presiden AS Bill Clinton untuk memberikan kepada Palestina sebagian besar tuntutan mereka?
Dr. Jirbawi menganggap tawaran itu sebagai tipu daya, yang dimaksudkan untuk menciptakan kaum Bantustan, atau koloni-koloni semi-independen, yang banyak terdapat di Afrika Selatan pada era apartheid. Kalaupun itu benar, kami bertanya, kenapa Arafat tidak mengajukan tawaran tandingan? Kenapa dia menolak begitu saja proses tersebut dan menarik orang-orangnya dari kemungkinan negosiasi lebih lanjut?
Di tengah-tengah percakapan penuh ketegangan, Raja Shehadeh berjalan berjingkat-jingkat memasuki ruangan. Dia menjaga tampang rendah hatinya yang cemberut. Abdul-Malik Al-Jaber, seorang aktivis yang selalu berada di samping Dr. Jirbawi, berbicara keras-keras agar tema apartheid tidak lenyap dalam berondongan pertanyaan kami berikutnya. “Istriku memiliki kartu tanda pengenal Yerusalem, dan ketika dia melahirkan anak perempuan kami di wilayah Israel…” Dia memerinci masalah birokratis pendaftaran asuransi anaknya yang baru lahir. Inti ceritanya adalah, kondisi-kondisi apartheid membinasakan orang Arab di seluruh Israel, bukan hanya di Tepi Barat dan Jalur Gaza. “Kami penduduk Yerusalem dan kami membayar semua pajak kami,” katanya, “tapi terdapat cara-cara yang mengingkari hak-hak kami, yang didasarkan pada etnis.”
Dia benar. Demokrasi tidak menghentikan negara mana pun untuk menempatkan kelompok minoritasnya pada posisi yang tidak beruntung. Lihatlah, misalnya, betapa banyak anggota tentara baru yang berasal dari perguruan-perguruan tinggi AS yang memiliki banyak murid Hispanik. Israel juga tidak lepas dari tindakan rasisme, sebagaimana yang dipublikasikan oleh Ha’aretz, surat kabar ternama di Israel. Namun demikian, setelah melewati prosedur yang rumit selama tiga bulan, Al-Jaber dan istrinya berhasil mendaftarkan anak mereka untuk memperoleh asuransi kesehatan. Jadi, apakah hak-hak mereka pada akhirnya diingkari? Ini bukanlah pembedaan yang berlebihan, kecuali jika Anda ingin menuduh sebuah pemerintahan telah melakukan praktik apartheid.
Tapi aku memiliki pertanyaan-pertanyaan yang lebih urgen. Dua dari tiga orang Palestina ini telah menyampaikan pemikiran mereka. Akankah orang yang ketiga melakukan hal yang sama? Atau akankah kami mendengar sesuatu—apa saja—tentang bagaimana dikotomi “kita vs mereka”, “Yahudi vs Arab”, memparodikan dua buah kaum? Semua mata memandang Shehadeh. Dengan malu-malu dia mengeluarkan bukunya. “Luar biasa!” aku berseru girang di dalam hati.
“Halaman satu tujuh tiga,” kata Shehadeh. Ia mulai membaca, “Ideologi dan buldoser adalah kutukan negeri ini. Yang pertama memberikan inspirasi, yang kedua membuat mungkin dalam sehari apa yang biasa diselesaikan sejumlah orang dalam waktu sebulan. Shehadeh menggunakan beberapa menit berikutnya untuk menyampaikan satu bagian tentang teknologi—dan agenda—yang dimiliki oleh Israel untuk membuang orang-orang Palestina. Setelah membaca bukunya dua kali dan praktis mengingat paragraf-paragraf utama, dalam situasi ini aku melihat Shehadeh berhenti tepat sebelum dia mencapai bagian yang penting, yakni bagian saat ayahnya mengatakan bahwa sebuah solusi yang rasional bagi konflik Palestina-Israel haruslah melalui jalan dialog dan tawar-menawar, bukan melalui pengeboman. Lebih tepatnya, “hanya inisiatif politik” yang akan berhasil. “Dan dalam waktu dekat. Sebelum tidak ada lagi tanah yang tersisa untuk diperbincangkan.” Inisiatif politik dan kesegeraan: itulah kesempatan yang dimiliki Arafat, namun tidak dia gunakan.
Aku terkaget ketika Shehadeh menutup pembicaraannya. Tapi aku cukup tahu tentang bagaimana akhir bagian itu, untuk memahami mengapa intelektual yang tegar ini membatasi kata-katanya sendiri di depan dua temannya. Di Palestina, tulisnya di berbagai bagian bukunya, “masyarakat berkonspirasi untuk menghancurkan, mematahkan semangat, dan merendahkan mereka yang menang melalui kecemburuan yang tak terkira. Itulah masyarakat yang mendorong Anda merasa takut. Sebagian besar energi Anda habis untuk memahami persepsi publik atas tindakan-tindakan Anda, karena kelangsungan hidup Anda bergantung pada kemauan Anda berkompromi dengan kemauan masyarakat Anda.”
Aku teringat pada apa yang dikatakan oleh si kurator dari Tel Aviv kepadaku: Mungkin atas alasan mempertahankan dirilah, teman Palestinanya tidak mau menerima telepon darinya. Setiap penolakan untuk berkompromi dengan para korban harus dibayar dengan harga mahal. Dan ayah Shehadeh membayarnya dengan nyawa. “Dia adalah orang yang bersemangat dan berjiwa publik, yang tak pernah diperbolehkan untuk sukses. Dia telah menjadi target….” Aku ingin menanyakan pada anak lelaki apakah dirinya juga begitu. Tetapi pertanyaan itu terasa kejam. Kiranya sudah cukup mengetahui bahwa ketika orang-orang di Ramallah berjalan tanpa tujuan, Raja Shehadeh tidak berani berjalan di luar lorong kebenaran semu.
Pertemuan kami selesai tiba-tiba, karena orang-orang Palestina ini ingat bahwa mereka hanya punya sedikit waktu untuk berbelanja barang-barang sebelum jam malam kembali diberlakukan. Kami mengosongkan ruangan, lapar dan agak sedikit bingung, karena panitia menyiapkan makan siang berupa roti berisi daging babi dan keju. Daging babi dan keju! Untuk para jurnalis yang terdiri dari seorang muslim dan beberapa orang Yahudi. Dihidangkan di ruang diplomasi. Ah…
Sepanjang masa jeda tanpa rencana mengenai apa yang harus dilakukan untuk makan siang, langsung saja aku mencari bahan-bahan di sebuah rak majalah. Rak itu berisikan studi, laporan, dan jurnal-jurnal akademis dari pertengahan tahun 1990-an. Aku memasukkan dua publikasi ke dalam tasku, karena aku dapat mempelajari konteks dari publikasi-publikasi tersebut. Dan, oh ya, aku selalu ingin tahu. Keingintahuanku menjadi alasan kenapa aku selalu suka mengaduk-aduk toko-toko buku di bandara. Semua itu menjadi indeks mengenai ide-ide apa saja yang diperbolehkan oleh sebuah masyarakat kepada warganya untuk diikuti.
Malam itu, sebelum pulang ke Toronto, aku memasuki bandara Ben-Gurion dengan ingatan yang masih membekas pada kota Ramallah—dan aku berniat mencari buku-buku tentang sengketa Palestina-Israel. Aku melihat hanya dua buku: yang satu netral, yang satunya lagi sangat condong kepada kepentingan Arab. Israel memperbolehkan legitimasinya dipertanyakan oleh sejarah. Bayangkanlah. Dan tetap saja, aku tidak mampu menepis tuduhan apartheid yang dilontarkan oleh para aktivis Palestina. Siang dan malam, mereka menyaksikan apa yang hanya aku lihat sekilas: perempuan dan laki-laki muda Israel dengan senjata terselempang di dada. Bermil-mil mereka melalui jalan berdebu di antara pos-pos pemeriksaan. Para tentara kasar yang tak mau mengucapkan sepatah kata Arab pun, meskipun mereka tahu. Kartu tanda pengenal, kawat berduri, tank-tank lapis baja, pendudukan-pendudukan Israel yang tampak seperti kawasan sub-urban dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membongkarnya, menunda keadilan bagi warga Palestina lebih lama lagi. Apa yang kusaksikan mengguncang kesadaran etisku. Tetapi aku akan segera tercerahkan!
Dalam penerbangan pulang, aku membuka salah satu publikasi yang aku ambil dari Ramallah, sebuah edisi Journal of Palestine Studies. Tertanggal 1997, tahun ketika proses perdamaian masih menjanjikan. Artikel pertama menunjukkan bahwa mereka yang mendirikan Israel melakukan hal itu dengan menekan demokrasi. Dengan mengutip Chaim Weizmann, seorang pemimpin Zionis, si penulis mengakui bahwa “kita tidak dapat menyandarkan masalah kita pada persetujuan orang Arab. Selama persetujuan mereka diminta, mereka tentu saja akan menolaknya.” Semakin aku membaca artikel itu, semakin aku memahami kegetiran penulisnya.
Pada publikasi itu, aku juga membaca sebuah “pengakuan” dari seorang lelaki yang kembali ke Gaza setelah pergi selama bertahun-tahun. Pada tahun 1997, tampaknya sebuah negara Palestina merdeka akan terwujud, dan dia pulang untuk merencanakan hidupnya setelah kemerdekaan yang terbayang di kepalanya. Namun, apa yang dia temukan adalah sebuah masyarakat yang tanpa kejujuran, sebuah masyarakat yang memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk mengeluarkan keluhan-keluhan yang terpendam lama. “Di sana ada dinding-dinding putih yang baru dicat…dinding-dinding yang hanya beberapa hari kemudian, setelah seorang Palestina terbunuh oleh peluru nyasar Israel, dipenuhi tempelan-tempelan ucapan dukacita dari semua organisasi yang diketahui dan tidak diketahui, yang menganggapnya sebagai pahlawan dan syahid, dan mengancam balas dendam kepada pembunuhnya. Kebenaran dan dinding-dinding putih telah dikorbankan, karena dapat dipastikan bahwa si korban bukanlah anggota organisasi-organisasi tersebut. Rasa haus akan adanya para pejuang martir merupakan gelora yang menghancurkan, yang mendominasi pikiran publik.
Jadi, bahkan pada saat adanya optimisime relatif, keinginan untuk mati telah mencengkeram kaum muslim Palestina. Kenapa begitu? Orang yang memberi pengakuan di atas menyatakan pada kita bahwa “ini bukan hanya disebabkan oleh kerasnya pendudukan”, tapi juga karena penolakan total terhadap introspeksi diri. Fakta ini memicu “runtuhnya” nilai-nilai kontrak sosial. Menjauh dari kritik tidaklah identik dengan kepercayaan-diri. Itu adalah pertanda menutup diri dari dunia luar. Dan sikap itu harus dibayar dengan sangat mahal.”
Aku tetapkan hatiku untuk mempelajari lebih banyak lagi tentang bagaimana kaum muslim telah melanggar peringatan di dalam Al-Quran bahwa “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri.” Pers Israel telah meyakinkanku bahwa kita tidak perlu malu untuk membeberkan kelemahan moral yang terjadi dalam komunitas kita. Waqf menunjukkan kepadaku bahwa aib akan banyak terjadi jika kita terus bungkam dan tercekik—baik oleh korset ataupun oleh hal lainnya. Peduli setan dengan para pencekik. Apa lagi yang belum kita ungkapkan kepada diri kita sendiri, sehingga kita bisa hidup dengan penuh cinta kepada orang lain, dan tak lagi tenggelam dalam mentalitas-korban yang terus menyalahkan pihak lain?
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to sign up for Irshad's confidential mailing list?
Click here to go to the subscribe page.
![]()
Click here to see photos of Irshad's latest
events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:




