BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
“…seorang mualaf disuruh oleh seorang ulama untuk membuang anjing peliharaannya. Ternyata anjing itu selalu kembali di depan pintunya, meskipun telah dibuang ke tempat yang jauh dan tak dikenal. Lantas ia bertanya kepada sang ulama, apa yang harus dilakukan terhadap anjingnya? Biarkan ia mati kelaparan, begitu jawaban ulama itu.”
(Sebuah cerita dari Khaled Abou El Fadl, Profesor UCLA)
HINGGA NOVEMBER 2001, kita telah melewati masa dua bulan untuk mengamati gambar-gambar yang memiriskan hati. Profil World Trade Center (WTC) diputar tanpa henti di pesawat TV kita, sebuah tugu peringatan atas sesuatu yang tak tergoyahkan sekaligus tak terbayangkan. Tetapi, mati-rasa masyarakat toh berkurang juga, dan wawancara tentang “bagaimana-mungkin-hal-itu-bisa-terjadi” menjadi lebih tajam. Sebuah pertanyaan yang tak bisa disembunyikan lagi adalah: Apa yang harus dilakukan Islam dengan serangan ini?
Tepat di depan pintu gerbang mereka, organisasi-organisasi Islam di Amerika Utara terus-menerus menggelar serangkaian press release yang bersifat mendamaikan. Nama para pemimpin yang menulis artikel di koran atau kolom pembaca bermunculan. Hampir setiap hari di berita TV kabel, para pelobi “hubungan antar-ras” memohon orang Amerika dan sekutu-sekutunya untuk tidak melampiaskan frustrasi mereka pada kaum muslim, karena sebagian besar dari kita adalah “orang baik-baik”. Teman-teman di Eropa mengirimkan contoh-contoh basi serupa yang sedang disebarkan di media mereka.
Mulut-mulut kaum muslim pada praktiknya berseru: Hai BBC, kami sudah setuju untuk disiarkan di gelombang udaramu, kami mengakui bahwa ada yang menyimpang di dalam Islam. Apa lagi yang kalian maui? Lihatlah, Reuters, kami sudah ke sana menghantam para militan. Ayo, kutiplah kata-kata kami! Hai, Fox, kami sedang mendebat sahabat-sahabat konservatifmu, bukan menghindari mereka, jadi jangan tuduh kami sedang menyelamatkan muka kami.
Kalau begitu, akulah yang akan menuduh, bahwa kita menyelamatkan muka kita. Untuk semua pengaduan kita atas penyakit-penyakit di seputaran Islam, kaum muslim dengan sangat berhati-hati menghindar untuk menyelesaikan penyakit yang melumpuhkan agama ini—tidak tersentuhnya Islam arus-utama .
Dua bulan pasca-11 September, aku melakukan apa yang menurutku bisa kulakukan. Aku menulis satu seri artikel yang menyerukan introspeksi. Lagi pula, kaum muslim yang tinggal di Barat punya kemudahan mengajukan pertanyaan yang sulit tanpa takut adanya pembalasan dendam dari negara. Menara kembar yang tidak sepatutnya runtuh, hancur berkeping-keping; menara kembar yang patut runtuh terus menyangga versi Islam yang terasa manis namun belum teruji. Menara satu: kebohongan. Menara dua: kesombongan.
Dengarkan penjelasanku. Kebohongannya adalah, alih-alih mengakui adanya masalah serius dalam Islam, kita malah secara refleksif meromantisasi Islam. Tekanan teman-teman sekelompok untuk terus mempertahankan pesan—pesannya adalah tidak semua muslim adalah teroris—mendorong kita untuk menghindari jihad yang paling penting: kritis terhadap diri sendiri. Mari kita akhiri semua kebungkaman ini, dan kita mesti berdiri dengan kritis. Mari kita akhiri kesombongan kita, yang menuntut orang Barat menghormati kita sebagai manusia, tetapi kita tidak berkewajiban apa-apa atas mereka. Dalam salah satu artikelku, aku menunjukkan bahwa pasca-11 September, sebuah kelompok muslim yang berbasis di Toronto mendesak para politisi untuk berbicara melawan fanatisme anti-muslim. Di antara mereka yang berbicara adalah seorang politisi yang secara terbuka mengaku sebagai gay. Aku menulis bahwa aku berharap dia bisa mengharapkan kemarahan-balasan dari kaum muslim jika suatu saat nanti ada klub atau toko buku gay yang dibom.
Secara ringkas aku memberikan tantangan bagi teman-teman muslimku sebagai berikut: Apakah kita akan tetap bersikap kanak-kanak, yang terbuai oleh sebuah harapan dengan bungkam dan patuh, atau kita mesti berproses menjadi dewasa sebagai warga negara seutuhnya, yang membela kebinekaan interpretasi dan ide, yang membuat kita bisa mempraktikkan Islam di belahan dunia ini?
Akibatnya, beragam respons membanjiriku. Kalangan non-muslim berharap lebih banyak lagi keterusterangan dariku. Namun, hanya sedikit dari kalangan kaum muslim. Sebagian besar dari mereka tidak membutuhkannya sama sekali. Beberapa di antaranya menganggapku sebagai orang kecewa karena mengalami trauma di madrasah, dan mungkin juga mereka memiliki pandangan sendiri tentang kondisi personalku. Namun demikian, kalau masalahnya adalah trauma, mengapa aku tidak pernah mendengar sedikit pun pandangan mereka tentang trauma lebih besar yang menimpa sedikit orang muslim dalam peristiwa 11 September? Apa yang harus mereka katakan tentang peran Islam dalam kehancuran itu? Tidak ada. Yang lain menuduhku melakukan serangan balik karena aku telah ditolak oleh sebagian besar kaum muslim, dan bahwa aku tidak tahu malu dengan penolakan itu. Kenapa aku ingin menjadi bagian dari arus-utama yang secara intelektual beku dan rusak secara moral?
Meskipun begitu, aku tidak membantah setiap surat yang masuk. Seorang pengirim surat secara khusus menyuruhku untuk tutup mulut dan memaksaku untuk berkontemplasi. Cemas akan “citra mengerikan” tentang Islam yang kulukiskan, muslim ini mengajariku sesuatu yang konstruktif. Apakah aku tahu tentang ijtihad? Dia bertanya. Bukan j-i-h-a-d, tetapi i-j-t-i-h-a-d. (Dia bahkan membantuku mengucapkannya: “ij-ti-had”.) Dia mengajariku, ijtihad adalah tradisi Islam untuk berpikir secara independen, yang dia yakini memperbolehkan setiap muslim, lelaki atau perempuan, heteroseksual atau gay, tua atau muda, untuk memperbarui praktik religiusnya dalam menyikapi keadaan-keadaan kontemporer.
Ij-ti-had. Sebuah tradisi dalam Islam? Tentang pemikiran independen? Terkutuklah aku. (Mungkin benar-benar terkutuk).
Mengingat kembali masa lalu, aku teringat pernah menemukan kata “ijtihad” dalam bahan bacaanku pasca-madrasah. Tetapi istilah itu muncul dengan setengah hati, ditunjukkan lebih sebagai legalisme kering ketimbang sebagai sebuah konsep revolusioner. Lagi pula, kesan yang kuperoleh adalah: Hanya pemegang otoritas agamalah yang berhak menafsirkan Al-Quran. Mempelajari ijtihad mendorongku untuk bertanya: Siapakah para pemegang otoritas religius ini? Maksudku, apakah Al-Quran mengakui adanya kependetaan formal? Tidak sama sekali. Apakah perubahan mood Al-Quran secara liar membuat setiap interpretasi terhadap teks-teksnya menjadi bersifat selektif dan subjektif? Ya. Maka, mungkinkah hak atas pemikiran independen, tradisi ijtihad, sebetulnya terbuka untuk kita semua? Bahwa dengan merebut hak ijtihad untuk diri mereka sendiri, apakah para ulama adalah ahli bid’ah yang sesungguhnya?
Seperti biasa, aku mulai membaca, berselancar di internet, dan berbicara dengan para ilmuwan. Siapa yang menciptakan tradisi ijtihad? Di mana ijtihad dipraktikkan dan dalam masyarakat seperti apa? Aku menemukan gambaran ini: Semangat untuk menyelidiki menggelora pada masa keemasan Islam, antara tahun 750 dan 1250. Di Irak, jantung imperium Islam, kaum Kristen bekerja berdampingan dengan kaum muslim menerjemahkan dan menghidupkan kembali filsafat Yunani. Di Spanyol, wilayah paling barat jangkauan Islam, kaum muslim mengembangkan apa yang oleh seorang sejarawan Yale disebut sebagai “budaya toleransi” dengan kaum Yahudi. Bersama-sama, semua komunitas ini memberi kita isyarat globalisasi—keterhubungan antara teknologi, uang, dan manusia. Kelompok muslim berdagang penuh semangat dengan kelompok non-muslim, mempelopori suatu sistem di mana cek-cek disiapkan di Maroko dan dicairkan di Suriah. Lalu lintas perdagangan ini juga menciptakan pertukaran ide yang sangat deras. Mari aku garis bawahi sedikit saja kontribusi Islam terhadap budaya Barat. Gitar. Sirup obat batuk. Universitas. Aljabar. Dan ekspresi kata “Olé!”, yang memiliki akar dalam kata “Allah!”
Inovasi dan semangat ijtihad berjalan bersama. Di kota bagian selatan Spanyol, Cordoba, misalnya, seorang perempuan yang berani secara seksual bernama Wallada mengorganisasi salon-salon sastra dan seni di mana orang menganalisis mimpi, syair, dan Al-Quran. Mereka berdebat tentang apa yang diharamkan Al-Quran bagi laki-laki dan perempuan. Apa hakikat laki-laki? Dan apa hakikat perempuan? Mereka pun memperdebatkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saat itu adalah masa ketika orang bahkan bisa memperdebatkan implikasi-implikasi Al-Quran bagi hermaprodit, seseorang yang dilahirkan dengan kelamin ganda.
Sementara itu, kembali ke Baghdad, pusat imperium ini begitu sibuk. Di sini tinggal khalifah Islam. Apakah melalui pemilihan, pembantaian, atau kombinasi keduanya, para khalifah menggantikan Nabi Muhammad sebagai negarawan dan penuntun spiritual kaum muslim. Di Baghdad-lah seorang khalifah abad ke-9, Al-Makmun, membangun Darul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan)—“institusi pendidikan tinggi pertama di dunia Islam dan Barat,” menurut Mahmoud Ayub dari Temple University. Tetapi, Cordoba tetap lebih dahsyat. Kota itu menjadi tempat pertemuan ide-ide. Ia menjadi rumah bagi tujuh puluh perpustakaan. Berarti, satu perpustakaan untuk setiap perawan yang oleh kaum martir masa kini diyakini akan diganjarkan kepada mereka di surga kelak. Perpustakaan pada zaman itu, perawan pada masa kini—sebuah kontras prioritas yang amat tajam, bukan?
Bagaimana ceritanya bisa terjadi keterbukaan orang Islam terhadap Yahudi dan Kristen? Jawabannya masih misteri. Tapi pada dasarnya, toleransi merupakan jalan terbaik untuk membangun dan mempertahankan imperium Islam. Dengan toleransi, sebagian besar penakluk muslim bertindak dengan satu aturan dasar bahwa Anda tidak bisa memaksa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk memeluk Islam. Aturan tersebut terbukti menjadi keuntungan strategis bagi imperialis Islam atas imperialis Kristen. Dengarlah cerita ini, kalangan Katolik garis keras tidak akan membiarkan kaum Yahudi dan Kristen bid’ah mempraktikkan keyakinan mereka. Sebaliknya, kaum muslim mengizinkannya. Sehingga, hal itu memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan menghadapi perlawanan dari kelompok minoritas selama perang ketika merebut suatu wilayah tertentu. Jadi, misalnya, kaum Yahudi bergembira ketika kaum muslim menginvasi Yerusalem pada tahun 639 M dan merebut Kota Daud dari kaum Bizantium, yang telah menodai kesucian situs-situs Daud dengan menggunakan tempat-tempat tersebut sebagai tempat pembuangan sampah. Kaum muslim yang berjaya membersihkan tempat-tempat tersebut dan mengundang keluarga-keluarga Yahudi untuk kembali ke sana.
Kemudian, kaum Yahudi meningkatkan kerja samanya satu tingkat lebih tinggi dan terlibat dalam aksi militer dengan kaum muslim. Mengalami penderitaan yang hebat di bawah penjajah Katolik, kaum Yahudi di Spanyol memohon kepada kaum muslim di Maroko untuk membebaskan mereka dengan cara mengambil alih Semenanjung Iberia. Suatu persekutuan yang ganjil telah berkembang: Kaum muslim menjadikan kaum Yahudi penjaga garis perbatasan dari kemungkinan serangan mendadak tentara-tentara Paus. Melalui mata-mata yang direkrut dari orang Yahudi, kaum muslim menaklukkan Spanyol pada tahun 711 M. (Selama pertempuran, komandan mereka, Tarik bin Ziyad, melewati bongkahan bebatuan yang sekarang dikenal Gibraltar, nama Arab untuk “Gunung Tarik”. Peristiwa itu menjadi salah satu momen saat kata Olé! diucapkan.)
Langkah lihai dari imperium Islam bukanlah dengan cara menumpuk harta kekayaan dari hasil penjajahan, tetapi mempertahankan cara untuk terus bisa berkuasa. Padahal orang Arab adalah, dalam kata-kata seorang kritikus budaya, “para prajurit, bukan administrator”. Tetapi, para prajurit ini mempunyai cukup kecerdasan untuk memahami bahwa mereka membutuhkan rencana lebih lanjut. Sehingga, para gubernur muslim ini menugaskan bawahannya yang paling pintar untuk menjalankan aktivitas imperium yang terus berkembang. Mereka membutuhkan para deputi yang cukup peka terhadap ketegangan-ketegangan dan kepelikan-kepelikan dalam mengurus komunitas-komunitas yang saling terpencar. Mereka membutuhkan warga negara global pada masa itu. Masuklah kaum Yahudi dengan cara yang anggun. Dari Spanyol hingga Irak, kaum Yahudi bekerja sebagai diplomat kelas atas, letnan-letnan militer, dokter-dokter istana, bankir, dan lain sebagainya.
Aku harus bertanya mengapa kaum Yahudi membantu membuat Baghdad menjadi sebuah pilihan alamiah untuk ibu kota imperium Islam. Syahdan, setelah kejatuhan kerajaan Israel yang terakhir pada 70 M, diaspora kaum Yahudi mendirikan pusat pembelajaran Talmud yang sangat terkenal di Baghdad. Ketika kaum muslim tiba di Baghdad, kota Babilonia kuno ini memiliki elite Yahudi terpelajar yang bisa diangkat menjadi pemikir kepercayaan oleh khalifah. Pada gilirannya, ini akan melicinkan jalan para rabbi di Baghdad untuk mentransmisikan pengajaran mereka secara terbuka kepada kaum Yahudi di seluruh dunia, di mana 90 persen dari mereka hidup di bawah penguasa muslim. (Pada abad ke-9 dan ke-10, kaum Yahudi merupakan separuh dari jumlah penduduk di beberapa daerah di Spanyol). Terima kasih atas mudahnya aliran ide-ide saat ini, kata seorang ilmuwan, sehingga “Talmud dan interpretasinya atas Taurat menjadi otoritas utama dalam kehidupan kaum Yahudi.”
Anda harus mencintai simbiosis ini: Selagi Islam mencapai zaman keemasannya, dengan banyak dipengaruhi oleh kehidupan intelektual Yahudi, orang Yahudi sendiri membuat langkah-langkah kejayaannya sendiri, dengan mengambil inspirasi dari budaya Arab muslim. Kesusastraan Yahudi sekuler mengalir dari pena Shmuel ha-Nagid, seorang rabbi dan penyair amatir yang bekerja sebagai perdana menteri di istana Spanyol selama dua monarki Islam. Luangkan waktu sejenak untuk mencerna kenyataan-kenyataan di atas.
Sama sekali tidak dengan sendirinya semua hal di atas menyiratkan bahwa peradaban Islam merupakan harmoni penuh persahabatan antara kaum Yahudi dan muslim. Demi Tuhan, sama sekali tidak. Sejak abad ke-11, rezim politik yang berganti-ganti di Spanyol mengikis toleransi melalui tirani mereka. Tetapi bahkan kemudian, konvergensi budaya tidak mati seketika. Para penganut ketiga agama Ibrahim lari menyelamatkan diri, menetap di tempat berbeda, dan saling menikah satu sama lain, meleburkan segala sesuatu mulai dari bahasa, dongeng, hingga filsafat.
Aku akan menunjukkan siapa biang dinamisme yang sedang aku bicarakan ini: Musa bin Maimun, atau Maimonides, seorang filosof lapisan atas kaum Yahudi, rabbi, dokter, dan pakar etika. Dia mempublikasikan karya-karyanya hampir secara eksklusif dalam bahasa Arab. (Perdana Menteri pertama Israel, David ben Gurion, mempelajari bahasa Arab sehingga dia bisa betul-betul mengapresiasi Maimonides). Dan sesungguhnya, Maimonides bukanlah ahli spiritual murahan. Selain sebagai orang pertama yang mengkodifikasikan hukum-hukum kitab bagi kaum Yahudi ( Mishnah Torah, yang ia tulis dalam bahasa Yahudi), dokter yang baik ini pun menulis buku klasik kaum Yahudi Tuntunan bagi Orang yang Kebingungan. Memahami bahwa hiruk pikuk pemikiran inovatif bisa memicu kebingungan moral, Maimonides ingin kaum Yahudi mempertahankan prinsip-prinsip kitab yang kuat tanpa membuat diri mereka menjadi bodoh. Cuplikan dari Tuntunan bagi Orang yang Kebingungan menunjukkan kejujuran intelektualnya: “Adalah sifat alamiah manusia untuk menyukai apa saja yang sudah dia kenali dan dia dibesarkan dengan semua itu, dan bahwa dia takut terhadap apa saja yang asing baginya. Pluralitas agama dan intoleransi merupakan akibat dari fakta bahwa orang tetap meyakini pendidikan yang (dulu) mereka terima.”
Yang membuat kariernya lebih mengagumkan lagi adalah, Maimonides memegang kendali atas Cordoba, tempat kelahirannya. Sekitar tahun 1150 M Maimonides dan keluarganya lari ke Afrika Utara, lalu ke Israel yang sekarang ini, sebelum berakhir di Mesir. Di sana dia menjadi ahli kedokteran bagi prajurit-prajurit utama Saladin, sang pahlawan militer muslim yang membuat frustrasi gelombang pertama Pasukan Salib. Dekatnya dia dengan derap langkah ekstremisme Islam—di Spanyol, jika bukan di tempat lain—Maimonides bisa saja menarik dirinya kembali kepada hal-hal yang absolut dalam agama dan budayanya. Tapi dia tidak melakukan itu. Di Mesir dia tetap berpraktik sebagai dokter. Dia memeriksa pasien-pasien yang mengantre di pintu rumahnya, belajar dengan komunitas Yahudinya, dan menulis untuk kalangan dunia yang lebih luas. Demikianlah insting kreatif—yang tidak bisa dihentikan—yang dipunyai oleh orang-orang yang telah membuat zaman keemasan, bahkan di masa-masa keredupannya.
Maimonides memiliki tandingan seorang teman muslim yang setara dengannya, yang hanya berusia sembilan tahun lebih tua dari dirinya—sang filosof, ahli kedokteran, matematika, dan penduduk asli Cordoba, Ibnu Rusyd (sering dikenal dengan nama Latin, Averroes). Di Spanyol, Ibnu Rusyd memperjuangkan kebebasan berpikir, tempat di mana Maimonides memberikan contoh lebih jauh lagi ke timur dan berani untuk berbeda pendapat dengan para teokrat. Didorong oleh kemunculan wajah Islam yang buas di tengah-tengah kehidupannya, Ibnu Rusyd berpandangan bahwa “filosof adalah pihak yang paling mampu memahami secara tepat ayat-ayat kiasan di dalam Al-Quran dengan bekal logika-logika yang mereka pelajari. Tidak ada ketentuan religius bahwa ayat-ayat tersebut harus diinterpretasikan secara harfiah.” Amin untuk kalimat terakhir ini.
Kenapa berhenti sampai di sini? Lebih dari orang Eropa mana pun pada masa itu, muslim atau bukan, Ibnu Rusyd berbicara tentang kesetaraan gender. Dalam penilaiannya, “kemampuan perempuan tidak diketahui” karena mereka “diturunkan derajatnya menjadi hanya mengurusi prokreasi, membesarkan anak-anak, dan menyusui.” Jauh-jauh hari dia mengingatkan para penjaga peradaban bahwa memperlakukan perempuan sebagai “beban bagi kaum laki-laki” adalah “salah satu alasan dari penyebab kemiskinan.” Dengan keberanian seperti itu, Ibnu Rusyd menjadi “beban” bagi kekuasaan muslim yang menggurita. Mereka membuangnya ke Marakas, Maroko, dan pada suatu malam di abad ke-13, Ibnu Rusyd meninggal secara misterius.
Selama merenungkan percikan pemikiran Ibnu Rusyd yang berkilauan, aku terus bertanya, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin sebuah kawasan-surga ide-ide subversif macam Spanyol menjadi pelopor ortodoksi? Kapankah seluruh imperium muslim berhenti berpikir? Apa yang menyegel akhir dari zaman keemasan Islam, dan apa artinya itu bagi kita semua hari ini?
Pertama-tama: Ternyata Spanyol Islam dibuat buta oleh para perusak agama. Al-Mutamid, seorang gubernur muslim di Sevilla, ingin memperkuat daerah kekuasaannya guna melawan Alphonso, seorang raja Kristen dari Castile. Untuk menjaga Alphonso tetap menjauh, Al-Mutamid meminta bantuan dari kaum muslim tangan besi dari Maroko, kaum Almoravid. Kaum Almoravid pun membereskan Alphonso, tetapi mereka kemudian mengambil alih kekuasaan secara buas karena alasan kemurnian teologis, suatu hal yang tidak pernah diharapkan oleh Al-Mutamid. Kaum Almoravid membenci budaya kebebasan berpikir di Spanyol Islam, yang mereka anggap sebagai kreativitas yang najis. Mereka menghina kaum Yahudi, menistakan kaum perempuan, membenci perdebatan, dan memposisikan diri sebagai penyebar agama yang kejam. Percayalah padaku, pengucilan Ibnu Rusyd tidak seberapa dibandingkan dengan seluruh kekejaman mereka dalam mengoyak-ngoyak Spanyol Islam. Manusia-manusia barbar ini bergerak lebih jauh lagi.
Pernah mendengar Al-Ghazali? Dia adalah seorang pemikir yang tinggal di Baghdad, yang menilai para filosof muslim liberal sebagai “orang-orang sesat”. Tetapi bahkan Al-Ghazali pun dicap sebagai orang yang terlalu liberal oleh kaum Almoravid. Mereka membakar karya-karyanya di depan publik. Mereka pun menekan kaum Sufi, para mistik Islam yang lebih suka memaknai Al-Quran secara metaforis ketimbang secara harfiah.
Tahukah Anda pelajaran yang aku anggap paling berharga dari seluruh episode ini? Yaitu, kaum muslim Spanyol hancur bukan karena orang Kristen yang kemaruk. Ya, tentu saja kaum Kristen punya andil dalam menghancurkan Spanyol Islam, tetapi biang keladi yang paling bertanggung jawab dalam menggerus kaum muslim Spanyol adalah orang Islam sendiri. Dan tahukah Anda apa artinya ini bagiku? Bahwa kaum muslim memaksakan hukum perang dan saling menghancurkan kebebasan pihak lain sebelum kolonialisme Eropa menjiplaknya. Menurutku, masalah kita pertama-tama tidak dimulai dari Pasukan Salib. Masalah kita bermula dari diri kita sendiri. Hingga hari ini, kaum muslim masih mengkambinghitamkan orang kulit putih sebagai biang keladi dekadensi mereka. Mereka berpaling dari fakta bahwa kita tidak pernah membutuhkan kaum Barat yang “opresif” untuk menindas kaum kita sendiri.
Aku akan memberikan ilustrasi lebih jauh dengan mengalihkan fokus kita ke Baghdad. Ingat khalifah Islam abad kesembilan, Al-Makmun? Dia mendukung faham Islam yang mempromosikan pemikiran rasional dan hendak melenyapkan pemikiran yang menyatakan bahwa Al-Quran sama dengan sifat Tuhan, yaitu abadi ( qadim). Di atas semua itu, teologi Al-Makmun didasarkan pada kehendak bebas setiap manusia. Ketika itu terjadi penolakan massal, baik terhadap teologi kehendak bebas maupun pemikiran rasional, sehingga Al-Makmun mengadakan penyelidikan habis-habisan terhadap para pegawai yang menolak teologinya sebagai interpretasi tunggal atas Islam! Mereka yang menolak mengikuti teologi Al-Makmun dihukum cambuk, dan sebagian yang lain dipenjarakan. Seorang ahli waris Al-Makmun telah memenggal setidaknya satu orang yang menolak interpretasi tersebut. Siapa lagi selain kaum muslim yang bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas kekejian ini? Gereja Romawi? Siapa lagi? Kaum Yahudi? Maaf. MTV? Belum saatnya. Coba tebak siapa yang masih tersisa?
Setelah tiga dekade “kehendak bebas” yang dipaksakan, pertama di bawah Al-Makmun dan kemudian berlanjut pada keponakan lelakinya, muncullah seorang khalifah yang membalikkan kebijakan dan membersihkan segala sesuatunya untuk sebuah doktrin baru bagi seluruh dinasti. Khalifah ini menitahkan doktrin yang sebaliknya: Orang-orang beriman harus menerima apa saja yang ditetapkan oleh Al-Quran secara harfiah, dan “dilarang mempertanyakan mengapa begitu”. Ringkasnya, bukan hak kita untuk bertanya bagaimana Tuhan menyatakan hukum-hukum tertentu karena kita sama sekali tidak mampu untuk berhubungan dengan Tuhan—Yang Maha Awal, Yang Maha Tidak Berteman, dan Yang Maha Tak Bisa Diduga. Kata-kata dalam firman-Nya dengan sendirinya pasti benar. Tugas kita hanyalah mematuhinya. Jelas, tidak setiap orang mematuhinya. Seperti halnya Ibnu Rusyd dan para filosof serta mistikus sebelum dirinya. Tetapi, lihatlah sekeliling kita sekarang, tampaknya ortodoksi “teologi larangan bertanya” makin merajalela. Ortodoksi ini semakin berkuasa karena memperoleh dukungan politik. Semangat berpikir bebas tetap bertahan dalam kantong-kantong imperium, tetapi tradisi formal ijtihad secara sengaja dibunuh. Anda bebas untuk bertanya bagaimana hal ini terjadi.
Untuk menjawab ini, aku harus memberikan gambaran awal, situasi ketika kaum muslim berselisih, siapa yang harus menggantikan Nabi pada tahun 632 M. Sejumlah orang hendak memaksakan menantu dan sepupu Nabi sendiri yang relatif masih muda, Ali bin Abu Thalib. Namun, banyak dari mereka yang lebih menyokong sahabat Nabi Muhammad yang lebih tua, yaitu Abu Bakar. Percekcokan yang mengancam pertumpahan darah ini menimbulkan perpecahan dalam Islam yang pertama: kaum Syiah yang melepaskan diri (faksi pendukung Ali) melawan mayoritas kaum Sunni (para pengikut Sunnah, atau tradisi). Selama sekitar 275 tahun, perpecahan itu makin berkembang parah. Perselisihan meletus dalam bentuk balas dendam pada tahun 909 M, ketika kelompok sempalan Syiah memproklamasikan sebuah pemerintahan terpisah di dalam kerajaan yang dipimpin oleh kaum Sunni. Proklamasi Syiah tersebut kemudian menginspirasi penguasa muslim Spanyol untuk mendeklarasikan klaim tandingannya sendiri sebagai “Pemimpin Orang-orang Beriman”—pendek kata, sebagai seorang khalifah. Di tengah-tengah keadaan chaos tersebut, rezim di Baghdad merapatkan barisan.
Dalam beberapa generasi, pemerintahan Baghdad mengontrol penutupan pintu yang lain—yaitu pintu ijtihad, sehingga dengan demikian tradisi pemikiran bebas pun selesai. Dengan kedok untuk melindungi bangsa-bangsa muslim di dunia dari tindakan memecah-belah (dikenal dengan istilah fitnah, dan dianggap sebagai suatu kejahatan), para ulama yang direstui oleh pemerintahan Baghdad membuat konsensus untuk membekukan tradisi dialog dalam Islam. Ulama-ulama ini mengambil keuntungan dari patronase mereka dengan kerajaan dan sedikit pun tidak menyisakan peluang terciptanya ruang keterbukaan. Bahkan, para penguasa saat itu menginginkan larangan yang lebih keras lagi terhadap tradisi berpikir bebas dan dialog. Jadi, dari perspektif yang dimotivasi oleh kepentingan politik ini, segala sesuatu yang ingin diketahui oleh kaum muslim jelas akan diketahui. Anda punya masalah atau pertanyaan? Keempat mazhab Sunni (Syafii, Hanbali, Hanafi, dan Maliki— Peny.) bisa memuaskan pertanyaan Anda! Mereka tidak pernah berhadapan dengan pertanyaan yang benar-benar baru. Mereka hanya akan menjiplak keputusan-keputusan masa lalu. Tidak ada hal baru yang bisa ditoleransi.
Kita di abad ke-21 masih bisa merasakan sisa-sisa dari strategi yang dibangun ribuan tahun yang lalu, demi menjaga stabilitas agar kerajaan tidak jatuh. Tapi aku punya berita untuk Anda: Kerajaan Islam tidak ada lagi. Aku akan mengatakannya lagi. Kerajaan Islam telah lenyap. Kita sekarang ada di sini. Namun, pintu gerbang ijtihad—pikiran kita—masih saja tertutup. Setidaknya, dalam banyak hal masih tertutup. Kenapa harus begini? Kenapa kaum muslim arus-utama terus menindas kekuatan otaknya ketika tujuan membatasi kebebasan berpikir—untuk menjaga integritas negeri Islam dari Irak sampai Spanyol—sekarang sudah berakhir? Goyangkan kepalamu sekali saja, temanku. Satu-satunya hal yang telah dicapai oleh strategi masa lalu ini adalah penindasan yang menggurita atas kaum muslim yang dilakukan oleh kaum muslim sendiri: pemenjaraan interpretasi.
Aku akan menguraikannya lebih konkret. Ketika pintu ijtihad tertutup, hak berpikir independen hanya menjadi milik eksklusif kelompok mufti, ulama ahli hukum, di setiap kota atau negara. “Sampai hari ini,” kata Mahmoud Ayoub, “para mufti menerbitkan opini-opini hukum, yang disebut fatwa, sesuai dengan asas-asas mazhab mereka. Kumpulan fatwa itu berfungsi sebagai manual terutama bagi para mufti yang kurang kreatif atau kurang mampu.” Kurang kreatif? Kurang mampu? Kurang mampu ketimbang siapa? Anda atau aku? Apa kita masih membutuhkan mereka? Daripada terus menjiplak jiplakan mereka, bukankah lebih baik kita dengan sekuat tenaga mengguncang-guncang pintu ijtihad supaya terbuka?
Lihatlah contoh lain bagaimana kita memuja pengulang-ulangan: hukum Syariah. Selalu dikatakan bahwa Syariah mewakili ideal-ideal Islam. Sebagian besar muslim beranggapan bahwa Syariah adalah sesuatu yang suci. “Sebagian besar Syariah,” tulis seorang pembela reformasi, Ziauddin Sardar, “tak lebih daripada sekadar pendapat hukum dari para hakim klasik”—dengan kata lain, Syariah adalah milik keempat Mazhab Sunni. Diciptakan selama masa kerajaan Islam, kode-kode hukum ini terus-menerus dijiplak sejak saat itu. “Itulah sebabnya,” kata Sardar, “kapan saja Syariah diberlakukan—di luar konteks waktu ketika dirumuskan dan jauh di luar jangkauan kita—maka masyarakat-masyarakat muslim akan menyaksikan suasana zaman pertengahan.” Kita menyaksikan penerapannya di Saudi Arabia, Iran, Sudan, dan Afghanistan pada era Taliban.
Bahkan ketika Syariah tidak tampak diberlakukan pun, penjiplakan atau imitasi masih tetap dijalankan. Baru-baru ini, para mahasiswa di sebuah universitas di Palestina melempar keluar seorang profesor lewat jendela ruang kuliah di lantai dua. Apa kejahatannya? Dia menafsirkan ulang sejarah awal Islam. Dia tetap hidup, tapi aku tidak yakin Palestina bisa bertahan jika kelompok akademis dalam masyarakatnya menghina riset ilmiah. Kemudian ada website pro-Chechnya yang mengagung-agungkan imitasi dengan cara yang sedikit lebih terpelajar. Website itu merendahkan kualitas diri si genius Maimonides dengan membuat tulisan berjudul “Tuntunan bagi Orang yang Kebingungan terhadap Boleh Tidaknya Membunuh Para Tawanan”. Bayangkanlah perasaanku ketika aku menemukan ajaran bahwa diperbolehkan (sungguh, bahkan wajib hukumnya) membunuh orang kafir—kecuali jika sang imam dan wakilnya memutuskan lain.
Setelah mengetahui bagaimana penjiplakan (imitasi) telah menjadi norma di dalam Islam, aku tetap kebingungan karena satu hal. Jika kita terus melakukan penjiplakan, lalu kenapa kita tidak menjiplak toleransi ketimbang tirani? Bukankah kita punya preseden yang baik untuk berusaha menyamai— eh, menjiplak—cara kaum muslim bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Kristen selama masa keemasan Islam? Lalu, kenapa begitu banyak dari kita masih tetap berprasangka negatif terhadap kelompok non-muslim?
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini tentu saja membuat diriku sendiri kewalahan menghadapinya. Karena dalam usahaku mengorek-ngorek informasi di sana-sini, aku menyadari bahwa toleransi kaum muslim terhadap kaum Yahudi dan Kristen selalu rapuh. Sepanjang zaman keemasan, toleransi sering menyerupai rasa jijik dalam tingkatan yang rendah, bukan penerimaan.
Ada seorang ilmuwan Mesir yang lahir di Eropa menyingkap pandangan penuh mimpi tentang bagaimana kaum muslim dalam sejarahnya memperlakukan “orang lain”. Bat Ye’or namanya. Sebetulnya itu nama samarannya, yang dia ambil karena apa yang dia perdebatkan membuat banyak kaum muslim geram bukan kepalang. Ye’or menggunakan kata “dhimmitude” untuk menjelaskan diskriminasi besar-besaran oleh ideologi Islam terhadap kaum Yahudi dan Kristen. Apa makna “dhimmitude”? Istilah itu berasal dari kata zhimmi, istilah Arab untuk menyebut kelompok-kelompok—teman-teman kita Ahli Kitab—yang berhak mendapatkan perlindungan dalam masyarakat muslim.
Perlindungan? Mari kita kaji premis di balik prinsip ini. Mengapa kaum Yahudi dan Kristen membutuhkan perlindungan khusus jika mereka adalah anak cucu Ahli Kitab, yang juga berhak atas hak dan kewajiban yang setara dengan hak dan kewajiban orang Islam? Itulah masalahnya. Masyarakat Islam dalam sejarahnya sulit memperlakukan kaum Yahudi dan Kristen (apalagi orang lain) secara setara dalam hal harkat dan martabat.
Sebuah ilustrasi: Di bawah kekuasaan muslim, kaum Yahudi dan Kristen secara historis telah membeli perlindungan untuk kehidupan mereka—intinya, membayar untuk jaminan hidup mereka—dengan membayar pajak. Pajak ini dikenal sebagai jizyah, dan Al-Quran membolehkan pajak ini untuk menciptakan perdamaian bagi semua pihak. Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa, bukan? Ya, Nabi Muhammad menunjukkan bahwa Anda boleh menggunakan kehendak bebas dalam hal ini. Ketika perdamaian untuk semua pihak tidak terganggu, dia tidak menerapkan jizyah. Tapi, tetap saja pilihan untuk menetapkan pajak semacam itu, bagiku terkesan sebagai praktik “pemerasan”.
Penelitian Bat Ye’or memperkuat hal tersebut. Bayangkan istilah-istilah dalam laporan di mana Nabi Muhammad mendiktekan kepada suatu kelompok petani Yahudi setelah pasukan muslim menguasai oasis mereka di Khaybar, Madinah utara. Bat Ye’or menulis, “Nabi memperbolehkan orang Yahudi bertani di tanah mereka, tapi hanya sebagai penyewa. Dia meminta agar separuh dari hasil panen mereka disetorkan kepadanya, dan pasukannya berhak mengusir mereka jika diperlukan.” Aku tidak sedang mencoba menyudutkan Nabi. Hanya saja, kebijakannya tersebut telah menciptakan suasana tertentu bagi kehidupan politik dalam Islam.
Supaya adil, sejarawan lain mengungkapkan bahwa Muhammad menunjukkan kekagumannya pada tetangga Yahudinya. Dia mendorong agar kaum muslim ikut serta dalam puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi pada Hari Penebusan Dosa mereka. Dia menetapkan hari Jumat, awal dari Sabbat Yahudi, sebagai waktu shalat berjamaah kaum muslim. Dan dia memilih Yerusalem, bukan Makkah, sebagai kiblat shalat yang pertama. Langkah yang bagus. Tapi kita harus berhadapan dengan pertanyaan ini: Tidak mungkinkah ini hanya sebuah langkah yang ditawarkan oleh seorang politisi ulung? Dan jika kita terlalu terfokus pada cerita tersebut, maka bukankah itu akan mengalihkan perhatian kita dari sisi-sisi Islam yang kurang toleran?
Kuajukan pertanyaan itu bukannya tanpa alasan. Tidak berapa lama setelah kematian Nabi, sebuah dokumen yang mengganggu tapi memiliki otoritas tinggi muncul ke permukaan. Dokumen itu menyebutkan bahwa kaum non-muslim akan berdiri ketika kaum muslim hendak duduk; bahwa kaum non-muslim harus menyaksikan rumah ibadah mereka hancur tapi tidak perlu memperbaiki atau menggantinya dengan yang baru; bahwa kesaksian seorang muslim di pengadilan akan mengalahkan kesaksian seorang non-muslim. Maka, dari kisah ini, Anda bisa membayangkan gambaran suram yang ada. Dokumen ini disebut “Pakta Umar”. Siapakah Umar? Pengganti Nabi Muhammad, khalifah yang kedua—seorang sahabat yang digambarkan sebagai orang yang jujur dan bijaksana di dalam setiap riwayat yang pernah kubaca. Adalah suatu misteri bagaimana namanya dikonotasikan (atau dikonotasikan secara salah) dengan catatan yang secara keseluruhan bersifat suprematif itu. Dan karena bagian itu tidak pernah jelas, pertanyaan berikutnya pun muncul: Mengapa kaum muslim memilih intoleransi ketimbang toleransi melalui pakta Umar itu? Aku menciptakan sebuah “pakta” dengan diriku sendiri untuk selalu meletakkan pertanyaan ini di dalam radarku.
Kini, yang bisa kukatakan kepada Anda adalah: Pakta Umar memiliki efek yang menentukan terhadap Islam masa awal—dan jauh setelahnya. Pada awal abad ke-9, seorang ahli hukum ulung menggunakan pakta tersebut sebagai dasar untuk memberikan pertimbangan bagi para gubernur muslim tentang hubungan seperti apa yang harus mereka ciptakan dengan pihak-pihak non-muslim. Ahli hukum itu mendapatkan semacam aturan yang sudah diterima secara umum. Tengoklah sekilas beberapa batasan yang ditujukan bagi kaum Yahudi dan Kristen:
v “Kalian tidak boleh menggunakan bagian tengah jalan atau tempat duduk di pasar, yang bisa merintangi orang Islam…”
v “Kalian harus menampilkan diri secara berbeda dengan menggunakan pelana kuda dan kuda tunggangan yang berbeda…”
v “Kalian harus menampilkan secara berbeda penutup kepala kalian dengan sebuah tanda…”
v “Kalian harus menggunakan ikat pinggang atau korset di atas semua baju, jubah, dan pakaian lainnya, sehingga benda tersebut tidak tersembunyi…”
Imperialisme, pembaca? Peraturan-peraturan ini “ditegakkan” oleh para legislator dan hakim muslim sebagai “sistem persyaratan diskriminatif yang mempunyai sanksi ilahi,” ujar Abdulaziz Sachedina, seorang profesor di Universitas Virginia. Diskriminasi. Sanksi ilahi. Sistem. Jika tidak ada satu saja dari kata-kata tersebut yang mencengangkan Anda, setidaknya berhentilah pada kata “sistem”. Istilah itu merujuk pada sebuah budaya kepatuhan yang menyeluruh. Itulah zhimmi.
Sepanjang lima ratus tahun masa keemasan Islam, Pakta Umar merajai segala macam peraturan, mengarah ke toleransi yang rapuh sebagaimana yang kutunjukkan di atas. Begini gambarannya: Banyak kaum Yahudi dan Kristen menemukan diri mereka terperangkap dalam peraturan-peraturan tersebut. Mereka bisa dengan sopan menolak permintaan gubernur muslim untuk menerima jabatan publik, dan dalam hal ini mereka berisiko menyinggung gubernur tersebut. Tapi jika mereka menerimanya, mereka berisiko dinistakan karena dinilai melanggar aturan pembedaan di bawah Pakta Umar. Dalam hal ini, keluarga dan komunitas mereka akan diminta membayar atas pelanggaran ini.
Aku ingin Anda mengetahui contoh dari Shmuel ha-Nagid dan anak laki-lakinya. Shmuel, mungkin Anda ingat, adalah perdana menteri dari dua raja muslim di Spanyol. Walaupun dia adalah seseorang yang berbakat besar—penyair, komandan militer, dan teolog—namun dia menunjukkan pengaruhnya secara berhati-hati. Reuven Firestone dari Hebrew Union College menceritakan kisahnya: “Ketika Shmuel meninggal pada tahun 1055, anak laki-lakinya Yosef ditunjuk untuk menggantikannya. Meskipun sangat berbakat, sebagaimana ayahnya, Yosef sombong dan tidak disukai. Kurang mampunya dia membawa diri dalam masalah zhimmi menyebabkan dia terjatuh dan akhirnya dibunuh pada tahun 1066. Tak hanya itu, komunitas Yahudi di Granada pun dihabisi. Secara teknis, Yosef dan ayahnya telah melanggar Pakta dengan menerima jabatan publik tingkat tinggi yang mempunyai kekuasaan atas orang-orang Islam. Kenyataan ini diabaikan ketika Shmuel mampu membawa diri dengan kerendahan hati yang luar biasa dan ketika kerajaan merasa bahagia. Bagaimanapun, ketika tekanan muncul dan Yosef menolak untuk tidak menonjolkan diri, maka (perlindungan) zhimmi-nya pun diputus. Dia dibunuh dan komunitasnya dihancurkan.”
Namun, Firestone berharap agar kita tidak melupakan “posisi kaum Yahudi dan minoritas agama lain yang relatif dihormati di bawah naungan kekuasaan Islam.” Banyak ilmuwan sepakat dengan Firestone. Seorang profesor menunjukkan bahwa di dunia Arab pada Abad Pertengahan, tetangga-tetangga Yahudi tidak menderita stigma. Sementara itu di Eropa, gereja tidak mendorong terjadinya kontak yang harmonis antara kaum Kristen dan Yahudi. Gereja menerapkan aturan: mana kawasan yang boleh dihuni oleh kaum Yahudi dan mana yang tidak. “Jewries” atau jalan-jalan khusus bagi kaum Yahudi, semakin menancapkan “kecurigaan dan ketakutan” terhadap kaum Kristen. Maksud profesor itu: Jangan hanya menuding Islam sebagai penyebab terjadinya pembunuhan massal di sana-sini. Tapi, tengok juga kelompok Kristen di Abad Pertengahan, yang berusaha melenyapkan Yudaisme sama sekali.
Aku bisa menerima upaya penyeimbangan ini. Tetapi, demi kepentingan keseimbangan yang lebih jauh, janganlah meremehkan cara-cara menyakitkan yang disebabkan oleh Pakta Umar. Di Afrika Utara, orang Yahudi dan Kristen memakai sepotong kain di bahu yang bergambar babi dan monyet (gambar monyet untuk orang Yahudi dan gambar babi untuk orang Kristen). Mereka juga harus menerakan simbol-simbol ini di pintu rumah mereka. Di Baghdad, tempat pencerahan Islam, kaum zhimmi memakai pakaian yang ditempeli simbol-simbol kuning—suatu penanda yang dimunculkan kembali oleh Nazi.
Aku harap potongan-potongan cerita tersebut mulai membentuk sebuah gambaran bagi Anda semua. Potongan-potongan ini telah memberikan sebuah gambaran bagiku. Aku mulai sedikit menangkap bagaimana Islam telah menjadi agama sempit yang sering kali penuh kebencian. Jika Anda mengombinasikan larangan berpikir dengan aturan diskriminasi yang diberlakukan dalam jangka panjang, apa yang akan Anda dapatkan? Anda akan menyaksikan fenomena penjiplakan dan intoleransi. Di atas semua itu, Anda akan menyaksikan fenomena penjiplakan terhadap intoleransi.
“Cukup! Jangan ngomong lagi!” Anda mungkin ingin berteriak seperti itu. “Berapa kali harus kukatakan bahwa aku tidak tertarik untuk menghina orang Yahudi dan Kristen? Aku tidak mau mereka berkeliaran di kotaku dengan bintang kuning, oke? Jangan menuduh semua kaum muslim dengan tuduhan ‘menjiplak intoleransi.’” Tetapi, penjiplakan intoleransi ternyata lebih jauh daripada sekadar bintang kuning. Tidak seorang muslim pun yang aku ketahui sepenuhnya bebas dari sistem yang mendukung terjadinya penjiplakan intoleransi.
Akan kugunakan diriku sendiri sebagai contoh. Aku tumbuh dengan rasa takut terhadap anjing karena Islam mengajarkan padaku bahwa anjing adalah makhluk kotor. Jika Anda harus menggunakannya sebagai penjaga, tutuplah hidung Anda. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menepuk-nepuk tubuhnya, apalagi berpikir untuk menjadikannya binatang piaraan. Apalagi anjing hitam! Mereka makhluk jahat layaknya setan, itu saja alasannya. Aku sudah berumur sekitar dua puluhan sebelum akhirnya bisa menyentuh seekor anjing dengan lepas tanpa dihantui perasaan berdosa.
Hal ini sangat berhubungan dengan penjiplakan atas intoleransi. Di beberapa hadis, hampir semua isinya menyebutkan bahwa kata anjing hitam muncul bersamaan dengan penghinaan terhadap perempuan dan orang Yahudi. Jauh dari objektivitas, hadis-hadis tersebut mengutuk anjing hitam dengan mengasosiasikan mereka dengan “orang lain” yang dicaci maki. Jika kita tidak mempertanyakan hadis-hadis ini, dan jika kita tidak membuka mata terhadap pola-pola prasangka, maka kita turut mendukung sebuah sistem yang memperlakukan jutaan makhluk Tuhan sebagai makhluk inferior dan jahat.
Sangat lucu dan aneh, bukan? Tetapi akibatnya sangat nyata. Simaklah pengalaman seorang profesor UCLA, Khaled Abou El Fadl. Dia bertemu dengan seorang mualaf yang disuruh oleh seorang ulama untuk membuang anjing peliharaannya. Ternyata anjing itu selalu kembali di depan pintunya, meskipun telah dibuang ke tempat yang jauh dan tak dikenal. Lantas ia bertanya kepada sang ulama, apa yang harus dilakukan terhadap anjingnya?
Biarkan ia mati kelaparan, begitu jawaban ulama itu.
Ketika El Fadl mendengar cerita yang tidak manusiawi ini, dalam hatinya timbul pemberontakan. Akademisi kelahiran Kuwait yang ahli dalam bidang hukum Islam di Mesir ini membaca dengan tekun teks-teks asli dan interpretasi-interpretasi awal untuk mencari tahu landasan teologis seperti apa yang menyebabkan sang ulama bersikap seperti itu. Saat itulah El Fadl menemukan sebuah pernyataan bahwa anjing, perempuan, dan kaum Yahudi dengan keji dicap sebagai makhluk yang nilainya lebih rendah. Bukan oleh Nabi Muhammad, yang tampaknya justru berpikir bahwa anjing cukup tinggi tingkatannya sehingga dia shalat di dekatnya, tapi oleh kaum terpelajar sesudahnya. Sebagaimana halnya dengan konstruksi Syariah, memburuk-burukkan anjing (dan orang Yahudi serta perempuan) juga merupakan sebuah pilihan. Tuhan tidak memilihnya. Para peletak dasar Syariahlah yang memilihnya. Banyak dari kita yang mempercayai konstruksi sistem mereka, tapi kita tidak harus menelannya mentah-mentah.
El Fadl dan istrinya, Grace, mengambil tiga anjing telantar—salah satunya berwarna hitam. Hebatnya lagi, Grace sering memimpin shalat jamaah dalam keluarga mereka. Melakukan ijtihad mendorong mereka untuk meletakkan kasih sayang Yang Maha Pencipta di atas hukum-hukum manusia.
Dengar, kita tidak harus menjadi ulama untuk bisa berijtihad. Yang harus kita lakukan adalah mengekspresikan secara terbuka pertanyaan-pertanyaan kita mengenai Islam. Selama ini kita membiarkan pertanyaan-pertanyaan kita tersembunyi dari nurani kita.
Dari waktu ke waktu, kita sebenarnya telah memanifestasikan pertanyaan-pertanyaan kita dalam bentuk tindakan. Tapi dengan perasaan takut. Luar biasa takut. Seratus tahun lalu di Mesir, diskusi-diskusi publik dilakukan untuk membahas Marxisme, ateisme, dan teori evolusi. Menurut seorang peneliti, sekitar lima puluh surat kabar dan dua ratus mingguan disebarkan gratis, mengutuk mereka yang membahas masalah-masalah itu dan menuduhnya sebagai kaum sekuler layaknya Voltaire. Seruan-seruan untuk reformasi agama juga muncul ke permukaan. Dipicu oleh rekonsiliasi dengan Eropa pada akhir abad ke-19, kebangkitan intelektual ini terkikis di bawah retorika anti-kolonialisme dan tekanan-tekanan politik untuk memperkokoh solidaritas Arab, yang berarti menolak semua hal yang berbau Barat. Tapi pada akhir 1920-an, sebagian besar pertanyaan tersebut telah memudar menjadi bisikan belaka. Pada masa-masa ini, seorang Mesir mendirikan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim), semacam Al-Qaeda pada zaman itu. Upacara-upacara pembaiatan ke dalam sel-sel teror Ikhwanul Muslimin menebarkan panji-panji yang bergambar: Al-Quran dan senapan. Tidak ada pertanyaan yang bisa diajukan.
Contoh paling akhir dari penjiplakan intoleransi adalah demam anti-Semitisme yang menyapu seluruh Mesir. Sulit bagiku untuk memaparkan secara gamblang dalam tulisan ini. Karena itu, aku akan memberikan ilustrasi dengan cara yang akan membuat Anda tertawa. Pada akhir 1990-an, Israel dengan suka rela membagi teknologi pertaniannya dengan Mesir, menghidupi perintah Injil untuk mengubah pedangmu menjadi bajak. Oh, perdamaian. Lalu pers Mesir menyebarkan cerita tentang benih-benih beracun dan timun penyebab kanker yang diberikan kepada para petani lugu. Desas-desus tersebut berdasarkan kampanye yang dibuat oleh Mesir sendiri, yang menuduh orang Israel menjual dua barang jahat: permen karet yang menyeret para perempuan ke dalam nafsu berahi, dan buah yang dimodifikasi secara genetik yang memperlemah sperma suami mereka. Kisah ini berasal dari sebuah negara Arab yang telah membuat perjanjian damai dengan Israel sejak tahun 1979!
Yordania adalah satu-satunya negara Arab lain yang melanggar perjanjian damai dengan Israel. Tapi, beberapa surat kabar Yordania, termasuk setidaknya dua harian pemerintah, menghubungkan peristiwa 11 September dengan “kaum Yahudi”. Bacalah berita di sebuah koran Yordania yang menarik untuk disimak, sebagaimana diterjemahkan oleh Institut Riset Media Timur Tengah: “Kaum Yahudi di Eropa berpikiran untuk pindah ke AS sehingga bisa mengambil alih kontrol absolut atas modal, bank, pasar saham, media, dan penentuan kebijakan politik (Amerika) dalam Kongres. Dan hal itu telah menjadi kenyataan. Orang Yahudi menyusup ke dalam angkatan bersenjata Amerika, khususnya Angkatan Udara, dan mereka mempersiapkan pilot-pilot mereka untuk menerbangkan pesawat udara; mereka tahu bahwa agama tidak dicantumkan dalam kartu identitas orang-orang yang bergabung ke dalam militer Amerika. Dengan demikian, pesawat terbang dikontrol oleh kaum Yahudi, begitu juga pers, radio, televisi, uang di bank, serta pasar saham. Mereka pun memiliki kontrol dalam penciptaan kebijakan politik. Kenapa Bush mengabaikan kenyataan-kenyataan ini, dan menyatakan bahwa penyelidikan akan dilakukan untuk mengungkap siapa di balik peristiwa ini? Mereka itu orang-orang Yahudi, wahai Presiden Bush!”
Anda tahu apa yang lebih membuatku menggigil ketimbang kenyataan bahwa pernyataan serampangan ini datang dari sebuah negara Arab muslim yang “moderat”? Itulah fakta bahwa sikap-sikap seperti ini turut menyertai kaum muslim ke Barat. Jika aku perlu bukti lebih jauh, dengan mudah aku bisa mendapatkannya dalam sebuah surat tentang artikel-artikelku pasca-11 September. “Aku menganggap diriku sebagai muslim liberal,” koresponden itu memulai uraiannya, yang kemudian menyalahkan diriku karena “menghancurkan semua yang telah kulakukan dan yang telah dilakukan oleh kaum muslim lain, untuk mempromosikan pesan Islam yang benar dan sejati.”
Pesan yang “benar dan sejati” apa? Dia lupa mengatakannya, karena terlalu tenggelam dalam mengungkapkan keyakinannya bahwa kaum Zionis-lah yang menjalankan media massa sehingga kolom-kolomku bisa “bermunculan di organisasi-organisasi Yahudi”. Muslim liberal ini meyakinkanku bahwa “aku tidak mengatakan agar kau menyensor dirimu. Tapi jika pandangan-pandangan seorang muslim seperti dirimu digunakan oleh kaum non-muslim dan Zionis, kau harus berpikir ulang!”
Penulis itu benar untuk satu hal. Zionis memang memberi perhatian yang besar terhadap permohonan publikku akan perlunya reformasi. Sebagai seorang jurnalis yang terkenal berani berteriak agar pintu-pintu kebebasan dibuka, aku diundang untuk mengunjungi Israel pada musim panas 2002. Ketika mempertimbangkan tawaran itu, sebuah pikiran terlintas di benakku. Orang Islam memperlakukan perempuan sama mengerikannya dengan kita memperlakukan orang Yahudi. Tapi kita tidak berpandangan bahwa perempuanlah yang bertanggung jawab atas borok geopolitik yang kronis dan stagnasi intelektual kita. Akankah kunjungan ke Israel bisa menjadi kunci jawaban bagi reformasi Islam?
Aku setuju dengan tawaran pergi ke Israel dengan dua syarat: Aku harus diperbolehkan mengajukan pertanyaan apa saja yang kuinginkan, dan aku harus dilibatkan dalam menyusun rencana perjalanan. Tentu saja, kata sponsor Zionisku, aku boleh, harus, dan akan menjadi seorang partner dalam perjalanan itu. Jadi, aku bertanya pada diriku lagi, haruskah aku pergi?
Aku teringat pada Mr. Khaki serta pemirsa QueerTelevision yang menyalahkan homosekualitas yang terjadi di kalangan muslim adalah karena ulah “babi” dan “anjing” Yahudi. Aku berpikir tentang si feminis yang mengutip “apa yang terjadi pada kaum muslim Palestina” sebagai sebuah alasan untuk bungkam terhadap kekejaman Taliban. Dan aku berang kepada si muslim “liberal” yang memperingatkan aku untuk berpikir ulang atas seruan-seruanku akan perlunya reformasi karena organisasi-organisasi Yahudi tengah menyaksikannya.
Berbekal pengetahuan tentang hubungan buruk kaum Arab dan Yahudi yang tak pernah berubah, aku memutuskan bahwa aku harus menyaksikan sendiri apakah Israel memang patut mendapatkan amarah dari umat Islam. Aku berbicara tentang kemarahan yang kita eksploitasi untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah atas keadaan kita sendiri—bahkan juga di Barat, di mana kita menghirup kebebasan untuk menilai tindakan-tindakan kita sebagaimana kita menilai tindakan-tindakan orang lain. Kalau kita hendak membalik intoleransi dalam pikiran kaum muslim, maka kita harus segera melempar jauh-jauh kacamata kuda kita dan bertanya: Apakah Israel memang betul-betul monster seperti yang selalu kita gambarkan selama ini?
Aku setuju saat orang-orang Zionis itu memesan tiket pesawat terbang untukku.
- Kata Pengantar oleh Profesor Khaleel Mohammed
- Sekapur Sirih
- Catatan Pengarang
- Surat Terbuka
- Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
- Bab 2 - Tujuh Puluh Perawan?
- Bab 3 - Kapan Umat Islam Berhenti Berpikir?
- Bab 4 - Gerbang dan Korset
- Bab 5 - Siapa Mengkhianati Siapa?
- Bab 6 - Wilayah-wilayah Rawan dalam Islam
- Bab 7 - Operasi Ijtihad
- Bab 8 - Kaum Muslim Perlu Bersikap Jujur
- Bab 9 - Terima Kasih kepada Peradaban Barat
- Kata Penutup
- Bacaan-bacaan yang Dianjurkan
- Ucapan Terima Kasih
- Tentang Pengarang
Documentary

Irshad's PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.
Learn More and View Clips...
Buy Now in the USA
Buy Now in Canada
Get Involved

Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she's doing.
Click here for concrete actions you can take to support Irshad's work.
Get Updates
Want to sign up for Irshad's confidential mailing list?
Click here to go to the subscribe page.
![]()
Click here to see photos of Irshad's latest
events and read her newsletters.
Around the Web
Join conversations about Muslim reform and moral courage around the web.
Click the links below to get involved:




